Generasi Muda Diminta Kritis Hadapi Arus Informasi di Media Sosial

  • 04 Sep 2026 09:25 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang sehat di tengah derasnya arus informasi media sosial. Mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry yang menjalani magang di Komisi Penyiaran Indonesia Aceh (KPIA) mengingatkan anak muda agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Hal tersebut disampaikan Salsabila, mahasiswa Program Studi Ilmu Politik UIN Ar-Raniry, dalam program siaran Pro 2 RRI Banda Aceh, Selasa 1 Agustus 2026, yang membahas literasi penyiaran digital dan peran generasi muda dalam mewujudkan siaran sehat di era media sosial. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi generasi muda ketika menerima maupun membagikan informasi di ruang digital.

Ia mengatakan, setiap konten yang muncul di media sosial perlu dilihat secara lebih kritis dengan mempertanyakan siapa pembuat informasi, apa tujuannya, serta apakah terdapat bukti yang mendukung informasi tersebut. “Kita itu sebagai generasi muda tentunya harus mampu bertanya dulu, siapa yang membuat informasi, apa tujuannya, dan apakah sumbernya itu sudah terpercaya dan adakah bukti yang memang mendukung,” kata Salsabila.

Salsabila menilai, kebiasaan menyebarkan informasi karena ikut tren atau fear of missing out (FOMO) dapat menjadi persoalan apabila tidak dibarengi dengan kemampuan melakukan pemeriksaan ulang. Karena itu, generasi muda perlu memastikan kebenaran sumber dan melakukan cross check sebelum menjadikan sebuah informasi sebagai bahan unggahan maupun konsumsi bersama.

Selain kemampuan memeriksa informasi, generasi muda juga diingatkan untuk memperhatikan etika ketika menggunakan media sosial. Salsabila menyebut pengguna perlu menghargai hak orang lain serta menghindari fitnah, doxing, hoaks, dan berbagai bentuk konten yang dapat merugikan masyarakat.

Ia juga mendorong anak muda memanfaatkan media sosial untuk menghasilkan konten positif yang memiliki nilai edukasi, termasuk memperkenalkan kekayaan sosial dan budaya Aceh. Menurutnya, setiap unggahan harus dipikirkan terlebih dahulu karena jejak digital yang telah tersebar tidak mudah dihapus dan dapat memberikan dampak bagi seseorang di kemudian hari.

Salsabila menegaskan, media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi telah menjadi ruang publik yang dapat memengaruhi cara masyarakat berpikir, bersikap, dan bertindak. Karena itu, kualitas ruang digital sangat bergantung pada kualitas penggunanya, terutama generasi muda yang memiliki kemampuan untuk menjadi pengguna sekaligus pembuat informasi secara bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....