Kasus Daycare di Banda Aceh dan Yogyakarta Jadi Alarm Keamanan Anak
- 28 Apr 2026 22:40 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Di banyak kota, termasuk di Banda Aceh, pemandangan titip anak di daycare (tempat penitipan anak) bukan hal baru. Karena kedua orang tua bekerja, tuntutan keadaan, daycare pun menjadi pilihan.
Namun, isu dalam beberapa hari terakhir tentang daycare yang tidak aman buat anak, tentu membuat para orang tua sangat was-was terhadap tempat daycare. Di Yogyakarta, sebuah daycare menjadi sorotan setelah terungkap dugaan kekerasan terhadap puluhan anak. Anak-anak disebut mengalami perlakuan tidak layak, dan kasus ini telah diproses secara hukum.
Sementara di Banda Aceh, rekaman CCTV dari sebuah daycare di kawasan Lamgugob juga memicu perhatian publik. Dalam video yang beredar, terlihat tindakan kasar terhadap anak. Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal mengecam keras kejadian tersebut dan menegaskan tidak ada toleransi terhadap kekerasan pada anak.
Dua kejadian yang mengemuka di ruang publik ini, mengingatkan kembali masyarakat, khususnya orang tua tentang hal mendasar: menitipkan anak bukan sekadar urusan tempat bagus, tetapi tentang memastikan rasa aman itu benar-benar ada untuk anak.
Jadi, apa yang perlu diperhatikan orang tua bila memutuskan menitipkan anak di daycare?
Pertama, kenali siapa yang akan mengasuh.
Bukan hanya nama lembaga atau fasilitasnya, tapi juga orang-orang di dalamnya. Pengasuh adalah pihak yang berinteraksi langsung dengan anak setiap hari. Cara mereka berbicara, merespons tangisan, hingga memperlakukan anak lain, semua itu penting diamati langsung. Bukan cuma diketahui atau didengar saja.
Kedua, perhatikan rasio pengasuh dan anak.
| Baca juga: Remaja Perlu Rancang Masa Depan Sejak Dini |
Daycare dengan jumlah anak terlalu banyak dan pengasuh terbatas, berisiko membuat pengawasan tidak optimal. Dalam kondisi lelah atau kewalahan, potensi pengasuh lalai bahkan kekerasan bisa saja terjadi.
Ketiga, pastikan keterbukaan sistem pengawasan.
Apakah ada akses CCTV? Ini penting dan paling krusial. Apakah orang tua bisa memantau atau setidaknya mendapatkan laporan rutin di tempat penitipan anak? Tempat penitipan anak yang baik, tidak keberatan untuk diawasi daycare-nya. Hal ini untuk saling menjaga kepercayaan. Transparansi adalah bagian dari tanggung jawab daycare dalam mengasuh anak.
Keempat, bangun komunikasi yang aktif dengan pengelola.
Jangan ragu bertanya tentang aktivitas harian, pola makan, hingga bagaimana pengasuh menangani anak yang menangis atau sulit diatur. Jawaban yang jelas dan terbuka biasanya mencerminkan pengelolaan yang baik.
Kelima, dengarkan perubahan pada anak.
Anak mungkin belum mampu bercerita dengan utuh. Tapi perubahan perilaku—menjadi lebih pendiam, mudah takut, atau menolak datang ke daycare, bisa menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan para orang tua. Perhatikan sungguh-sungguh perubahan ekspresi dan perilaku anak. Anak tidak semua bisa bicara atau komunikasi, tetapi perubahan perilaku dari biasanya itu adalah cara anak berkomunikasi tidak langsung.
***
Di tengah berbagai pilihan dan keterbatasan, orang tua memang tidak selalu bisa berada setiap waktu di sisi anak. Namun, kehati-hatian tetap bisa diupayakan.
Kasus yang terjadi di Yogyakarta dan Banda Aceh menjadi pengingat bahwa kepercayaan perlu dijaga dengan kewaspadaan. Pemerintah pun harus segera melakukan evaluasi dan pengawasan lebih ketat terhadap perizinan layanan daycare.
Namun tetap, ada satu hal yang tetap tidak bisa sepenuhnya diabaikan: orang tua harus memastikan daycare anaknya benar-benar aman. Menitipkan anak bukan hanya soal mencari tempat terbaik, apalagi karena dibilang tempatnya murah. Jangan. Sekali lagi, pastikan, … bahwa di tempat daycare yang dipilih orang tua, anak tetap diperlakukan dengan kasih yang sama seperti di rumah. (*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....