Transformasi Agribisnis Kunci Kemajuan Pertanian Aceh Masa Depan

  • 12 Jun 2026 00:05 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Aceh dengan kontribusi lebih dari 31 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan menyerap sekitar 41 persen tenaga kerja. Namun, besarnya kontribusi tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan petani.

Dalam Talk Show Pro 4 RRI Banda Aceh bertajuk Optimalisasi Pertanian Aceh Melalui Transformasi Sektor Agribisnis dan Keterlibatan Anak Muda” yang digelar pada Selasa 9 Juni 2026, Akademisi dan praktisi pertanian, Dr. Elvrida Rosa, S.P., M.P., menilai persoalan utama pertanian Aceh bukan terletak pada kemampuan produksi, melainkan masih lemahnya hilirisasi produk pertanian.

Menurutnya, sebagian besar petani masih menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah seperti gabah, kopi, kakao, pinang, maupun ikan segar. Akibatnya, nilai tambah dari proses pengolahan lebih banyak dinikmati pihak lain di luar daerah.

“Kontribusi besar sektor pertanian terhadap PDRB tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani. Aktivitas ekonominya besar, tetapi distribusi nilai ekonominya belum berpihak kepada petani,” ujarnya.

Elvrida menjelaskan bahwa struktur usaha pertanian Aceh masih didominasi petani kecil dengan lahan terbatas. Di sisi lain, petani juga harus menanggung berbagai risiko produksi, mulai dari cuaca ekstrem hingga gagal panen. Namun ketika harga komoditas meningkat, keuntungan yang diperoleh petani relatif kecil karena produk dijual dalam bentuk mentah.

Ia menekankan bahwa keberhasilan sektor pertanian ke depan tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan.

“Petani Aceh sebenarnya sudah mampu melakukan budidaya dengan baik. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana produk pertanian diolah menjadi barang bernilai tambah sehingga manfaat ekonominya tetap berada di Aceh,” katanya.

Dr. Elvrida Rosa, S.P., M.P., (Akademisi dan praktisi pertanian), El Radhie Nur Ambiya, S.TP., Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI dan Benni Baihaqi, S.P., Ketua Umum Petani Milenial Aceh, dalam Talk Show Pro 4 RRI Banda Aceh bertajuk Optimalisasi Pertanian Aceh Melalui Transformasi Sektor Agribisnis dan Keterlibatan Anak Muda” yang digelar pada Selasa (9/6). Foto : RRI/Lis.

Sementara itu, El Radhie Nur Ambiya, S.TP., Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI, menilai keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting dalam transformasi pertanian modern.

Ia mengungkapkan masih banyak anak muda yang enggan terjun ke sektor pertanian karena stigma bahwa profesi petani identik dengan kemiskinan dan pekerjaan yang berat.

“Mindset itu sudah terbentuk sejak lama. Bahkan banyak orang tua petani yang tidak ingin anaknya menjadi petani. Padahal pertanian saat ini memiliki peluang yang sangat besar jika dikelola dengan ilmu dan teknologi,” ujarnya.

Menurut El Radhie, tantangan utama yang dihadapi petani milenial meliputi keterbatasan modal, akses pasar, teknologi, dan informasi. Namun, berbagai kendala tersebut dapat diatasi melalui pendidikan, pelatihan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Ia menegaskan bahwa menjadi petani modern tidak cukup hanya mampu menanam dan menjual hasil panen. Generasi muda juga harus menguasai teknologi, pemasaran digital, dan jejaring bisnis agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Petani milenial harus menjadi agen perubahan yang mengajak generasi muda lainnya untuk masuk ke sektor pertanian. Ketahanan pangan masa depan ada di tangan mereka,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Benni Baihaqi, S.P., Ketua Umum Petani Milenial Aceh, yang menilai rendahnya produktivitas sebagian petani masih dipengaruhi keterbatasan pengetahuan, ketidakpastian pasar, dan pola pikir yang hanya berorientasi bertahan hidup.

Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

“Sekarang hampir semua orang memiliki gawai. Informasi pertanian sangat mudah diakses. Yang dibutuhkan adalah kemauan belajar dan pendampingan yang tepat,” ujarnya.

Benni juga menyoroti lambatnya adopsi teknologi pertanian modern atau smart farming di Aceh. Ia menilai kondisi tersebut lebih disebabkan kurangnya promosi dan contoh nyata di lapangan.

Menurutnya, teknologi seperti hidroponik, irigasi tetes, hingga sistem pengendalian berbasis internet dapat menjadi solusi untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus menarik minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber sepakat bahwa hilirisasi agribisnis harus menjadi agenda prioritas pembangunan pertanian Aceh. Komoditas seperti kopi Gayo, nilam, kakao, lada, kelapa, serta hasil perikanan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Selain itu, sektor hortikultura modern seperti sayuran hidroponik dan melon juga dinilai menjanjikan karena memiliki siklus panen yang cepat dan peluang pemasaran yang luas.

Para narasumber juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, kelompok tani, dan pelaku usaha untuk mempercepat transformasi sektor pertanian.

Melalui kolaborasi tersebut, Aceh diharapkan tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi juga mampu membangun industri agribisnis yang kuat, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....