Limbah Domestik Perlu Dikelola dari Rumah Tangga, Begini Penjelasannya

  • 31 Mei 2026 18:33 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Persoalan limbah domestik rumah tangga masih menjadi tantangan besar dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan perkotaan seperti Banda Aceh. Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya dinilai menjadi faktor penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan mencegah pencemaran lingkungan.

Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Hidup UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ir Syarifah Seicha Fathma, mengatakan limbah domestik pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis, yakni limbah cair dan limbah padat.

Dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada program Green Radio, Sabtu 23 Mei 2026 ia menjelaskan limbah padat lebih dikenal masyarakat sebagai sampah rumah tangga, sedangkan limbah cair umumnya berasal dari aktivitas domestik seperti septic tank dan saluran pembuangan rumah tangga.

"Kalau kita membahas limbah, sebenarnya ada limbah cair dan limbah padat. Yang sering dikenal masyarakat sebagai limbah padat adalah sampah, sedangkan limbah cair berasal dari aktivitas domestik seperti septic tank," ujarnya.

Menurut Syarifah, pembahasan mengenai limbah domestik saat ini lebih banyak difokuskan pada limbah padat karena volumenya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas rumah tangga.

Ia menjelaskan perhatian pemerintah terhadap persoalan sampah semakin besar setelah terjadinya tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Peristiwa tersebut menjadi salah satu momentum penting lahirnya regulasi pengelolaan sampah di Indonesia.

Dari tragedi itu, pemerintah kemudian memperkuat sistem pengelolaan sampah melalui berbagai kebijakan, termasuk penerbitan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menjadi landasan hukum penanganan sampah secara nasional.

Syarifah menambahkan, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari merupakan bentuk refleksi atas tragedi tersebut sekaligus pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Menurutnya, persoalan limbah domestik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga. Upaya seperti pemilahan sampah, pengurangan penggunaan barang sekali pakai, hingga pemanfaatan kembali sampah yang masih bernilai ekonomis dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Ia menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan di Banda Aceh maupun daerah lainnya.

"Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Jika masyarakat mampu memilah dan mengurangi sampah sejak awal, maka dampak lingkungan yang ditimbulkan juga dapat ditekan," katanya.

Melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan pengelolaan limbah domestik di Banda Aceh dapat berjalan lebih baik sehingga mampu mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....