Pengelolaan Sampah Butuh Perubahan Pola Pikir Masyarakat
- 26 Jan 2026 17:23 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh -Persoalan sampah di Kota Banda Aceh masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan. Meski berbagai program dan solusi telah diperkenalkan, pola lama pengelolaan sampah masih mendominasi. Hal itu mengemuka dalam dialog Green Radio Pro 1 RRI Banda Aceh bertema “Sampah: Masalah Siapa?”, yang menghadirkan Konsultan Daur Ulang Space to Grow Development, Amber Desist, B.Sc., dan Trainer Daur Ulang serta Teknisi Urban Farming, M. Indra, pada Sabtu (24/1/2026).
Amber Desist mengungkapkan bahwa Banda Aceh menghasilkan sekitar 250 ton sampah per hari, namun jumlah tersebut nyaris tidak mengalami penurunan. Ironisnya, dari total sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), hanya sekitar 0,009 persen yang berhasil didaur ulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa solusi baru memang mulai tumbuh, tetapi belum mampu menandingi dominasi sistem lama.
“Mayoritas orang sebenarnya sudah tahu pentingnya menjaga lingkungan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menerapkannya. Informasi ada, namun aplikasinya belum sampai,” kata Amber. Ia menekankan bahwa solusi pengelolaan sampah harus mudah, murah, dan sesuai dengan realitas sosial masyarakat, bukan sekadar meniru konsep dari luar daerah yang belum tentu cocok diterapkan di Aceh.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam dialog tersebut, sekitar 60 hingga 70 persen sampah rumah tangga di Banda Aceh adalah sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan. Jika dikelola langsung dari rumah menjadi kompos, jumlah sampah yang dibuang ke TPA bisa berkurang lebih dari setengah.
Trainer daur ulang M. Indra menilai kebiasaan masyarakat yang sepenuhnya bergantung pada petugas kebersihan justru memperpanjang masalah. Sampah yang dikumpulkan di depan rumah dan diangkut ke TPA hanya memindahkan persoalan, bukan menyelesaikannya.
“Begitu sampah dibuang ke TPA, itu bukan solusi, tapi menumpuk masalah baru,” ujarnya. Ia juga menyoroti fenomena warga yang sudah memilah sampah dari rumah, namun kembali tercampur saat diangkut truk sampah, sehingga upaya masyarakat menjadi sia-sia.
Selain persoalan organik, sampah plastik menjadi ancaman serius bagi lingkungan, terutama kawasan pesisir dan pariwisata. Amber menilai pergeseran budaya dari penggunaan wadah kaca dan besi ke plastik sekali pakai dipicu oleh alasan kepraktisan dan ekonomi. Padahal, plastik yang tidak terkelola dengan baik berakhir mencemari tanah, sungai, laut, hingga rantai makanan manusia.
“Dulu Aceh terbiasa pakai piring kaca dan wadah yang bisa dipakai ulang. Sekarang, plastik sekali pakai dianggap paling murah, padahal dampaknya mahal untuk lingkungan,” kata Amber.
Melalui komunitas Kami Kita, Amber dan Indra mendorong pendekatan daur ulang berbasis komunitas. Di antaranya dengan mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mendaur ulang plastik tertentu menjadi produk bernilai guna seperti gantungan kunci, tatakan gelas, hingga sisir. Bahkan, limbah botol kaca diolah menjadi pasir kaca yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran bangunan atau penahan abrasi pantai.
Namun, Amber menegaskan bahwa daur ulang bukanlah solusi utama jika tidak dibarengi dengan pengurangan sampah sejak awal. “Solusi paling efektif adalah mengurangi. Daur ulang hanya jembatan sementara jika kita masih memproduksi sampah dalam jumlah besar,” ujarnya.
Keduanya sepakat bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Individu, pemerintah, dan industri memiliki peran masing-masing. Perubahan perilaku masyarakat, regulasi yang berpihak pada lingkungan, serta tanggung jawab produsen menjadi kunci untuk keluar dari krisis sampah.
Di akhir dialog, para narasumber menekankan pentingnya peran generasi muda. Edukasi sejak usia dini dinilai mampu membentuk kebiasaan baru yang lebih lestari. “Dalam satu generasi saja, kebiasaan plastik sekali pakai bisa terbentuk. Artinya, dalam satu generasi berikutnya, kebiasaan itu juga bisa diubah,” tutur Amber.
Dengan semangat “sampahku, tanggung jawabku”, dialog ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan hanya soal siapa yang membersihkan, melainkan siapa yang mau memulai perubahan — dari rumah sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....