Penjor Galungan, Boleh Kreatif Tanpa Tinggalkan Esensi

  • 30 Okt 2024 07:24 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Setiap Buda Kliwon wuku Dunggulan umat Hindu merayakan Hari Suci Galungan. Cir utama umat Hindu merayakan hari suci ini adalah dengan pembuatan penjor. Penjor yang dibuat pada saat Galungan adalah penjor upacara yang wajib berisi pala bungkah dan pala gantung. Pada masa sekarang penjor upacara yang dulunya dibuat sederhana kini dibuat semenarik mungkin. Boleh saja penjor dibuat semenarik mungkin asal tidak melupakan esensi dari penjor Galungan itu sendiri.

Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Bawa menyebutkan masyarakat Bali saat Galungan sangat antusias dalam pembuatan penjor. Penjor merupakan salah satu identitas galungan. Masyarakat kita semangat sekali dalam menuangkan ide-ide kreatifnya di dalam membuat penjor, mulai dari membuat bentuknya dan bahannya. Jika dulu penjor dibuat secara sederhana dengan bambu satu ditambah ambu atau janur, pala bungkah dan pala gantung. Tetapi sekarang namanya seni dan kreativitas orang berkemban, tentu berbagai modifikasi, berbagai atraksi, berbagai unsur-unsur seni itu dimasukkan di dalam penjor. Malahan banyak penjor yang menggunakan teknologi, seperti ada penjor yang berisi patung garuda dan bisa bergerak.

“Sepanjang penjor itu dibuat tanpa meninggalkan esensi dari penjor seperti menggunakan pala bungkah, pala gantung itu sah-sah saja karena itu persembahan. Mengapa dikatakan sah-sah saja karena manusia diberikan idep atau diberikan berpikir oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi pikirannya itu digunakan untuk ide-ide yang kreatif itu tanpa meninggalkan esensi dan yang terpenting jangan membuat yang aneh dalam penjor. Intinya yang diisi dalam penjor adalah hal-hal yang positif karena saat pegatwakan penjor itu akan dicabut dan dilebur”, ujarnya.

Ida Bagus Bawa menambahkan dalam tattwa disebutkan ketika penjor sudah dicabut memang harus dibakar jika memungkinkan, kalau tidak memungkinkan dibakar semua ambil simbol-simbolnya beberapa, misalnya sampiannya saja yang dibakar karena cenderung masyarakat kita, tidak hanya di perkotaan di desa pun seperti itu membuat penjor yang besar karena kan membakar secara sembarangan itu juga banyak resikonya, seperti bisa menimbulkan kebakaran. Jadi yang dijalankan adalah sima dan dresta di masing-masing tempat atau daerah, tetapi jika sudah pegatwakan sudah sepatutnya penjor itu dicabut dan diturunkan, jangan dibiarkan lagi berbulan-bulan ada di depan rumah, terlebih nanti ketika terjadi cuaca yang tidak menentu, ada angin kencang dan lain sebagainya yang menyebabkan penjor itu jatuh, ya kalau tidak ada yang ditimpa, misalnya orang atau pengendara yang lewat ditampa kan mubasir yadnya kita. Semakin semangat memasang harus diimbangi dengan semangat menurunkan penjor itu sesuai dengan yang terkandung dalam sastra yaitu pada saat pegatwakan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....