Daerah Kamu Rawan Longsor? Cek Tanda-tanda Berikut Ini

  • 22 Jan 2025 06:56 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar: Tanah longsor adalah salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, terutama di daerah dengan topografi perbukitan atau pegunungan. Bencana ini terjadi akibat pergerakan material seperti tanah, batuan, atau bahan campuran lainnya dari bagian atas ke bawah lereng. Proses ini umumnya dipicu oleh kombinasi faktor alam, seperti curah hujan tinggi, dan faktor antropogenik atau ulah manusia, seperti pengelolaan lahan yang buruk.

Dikutip dari website Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hujan deras menjadi penyebab utama terjadinya tanah longsor. Ketika air meresap ke dalam tanah, bobot tanah meningkat, terutama pada lapisan tanah yang tebal dan gembur. Apabila air mencapai lapisan tanah kedap air yang menjadi bidang gelincir, tanah menjadi licin, dan lapisan tanah di atasnya mudah bergerak keluar lereng. Musim kering yang panjang sebelumnya juga memperburuk situasi karena menyebabkan retakan pada tanah. Retakan ini memungkinkan air hujan masuk dan mempercepat proses pelonggaran tanah. Di awal musim hujan, ketika intensitas hujan tinggi, tanah yang jenuh air mudah longsor karena akumulasi air di dasar lereng memicu gerakan lateral. Keberadaan pohon di sekitar lereng sangat penting karena akar pohon membantu menahan tanah dan menyerap air, sehingga mengurangi risiko longsor.

Beberapa ciri daerah rawan longsor perlu dikenali agar masyarakat dapat lebih waspada. Daerah dengan kemiringan lereng lebih dari 20 derajat, lapisan tanah tebal di atas lereng, dan tata guna lahan yang buruk memiliki risiko tinggi. Lereng yang gundul akibat penebangan pohon menjadi lebih rentan, terutama jika terdapat retakan pada tebing, rembesan air, atau pembebanan berlebih seperti rumah atau bangunan lainnya. Longsor juga lebih sering terjadi di area dengan jarak dekat ke sungai karena erosi secara perlahan menggerus tanah di sekitar aliran air.

Berdasarkan jenisnya, tanah longsor memiliki berbagai bentuk. Longsoran translasi terjadi ketika material bergerak pada bidang gelincir yang datar atau landai, sedangkan longsoran rotasi melibatkan pergerakan pada bidang gelincir berbentuk cekung. Pergerakan blok mengacu pada pemindahan massa batuan besar, sedangkan runtuhan batu terjadi ketika material bergerak ke bawah dengan jatuh bebas. Jenis lainnya adalah rayapan tanah, yang bergerak sangat lambat, dan aliran bahan rombakan, yang melibatkan massa tanah bercampur air yang bergerak cepat, terutama di sepanjang lembah atau sungai.

Pencegahan tanah longsor memerlukan kesadaran masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang baik. Menghindari pembuatan sawah atau kolam di atas lereng penting untuk mencegah tanah menjadi jenuh air. Bangunan sebaiknya tidak didirikan di bawah tebing, terutama jika jaraknya terlalu dekat, untuk menghindari risiko longsoran. Penebangan pohon di sekitar lereng harus dihentikan karena pohon membantu memperkuat struktur tanah. Jika lahan miring harus digunakan untuk pertanian, sistem terasering sangat efektif dalam mengurangi aliran permukaan air.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....