Aksi Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan
- 07 Des 2025 18:03 WIB
- Atambua
KBRN, Atambua:Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari) lembaga swadaya masyarakat nasional, berkomitmen dalam perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini disampaikan Mega Anggraeni, Manajer Divisi Program Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari) Foundation kepada rri.co.id, Senin (8/12/2025).
Lembaga ini menjadi mitra unggul dalam transformasi masyarakat yang berketahanan dan berkelanjutan melindungi alam. Yayasan dimaksud juga bekerjasama dengan berbagai pelaku pembangunan baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta dan lembaga internasional.
"Transformasi tersebut diwujudkan melalui program pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan seperti, pengelolaan limbah, pengelolaan bencana, pengelolaan kawasan pesisir, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pengelolaan dampak dan sumber perubahan iklim," ucapnya.
Program Bintari mengacu pada rencana strategis organisasi yang disusun setiap lima tahun dan menjadi organisasi yang bertumbuh, dan tangguh dengan kontribusi lingkungan semakin signifikan.
"Bintari foundation fokus pada tata kelola yang adaptif & akuntabel, Koneksi & kemitraan lokal nasional dan global, membuat unit-unit usaha produktif berbasis kompetensi sebagai sumber alternatif pendanaan. Sehingga menjadi stabilizer organisasi serta membangun dan membina jejaring unit-unit usaha di masyarakat berbasis bisnis yang berorientasi pada kelestarian lingkungan," ujarnya.
Dikatakan Mega,dampak dan risiko perubahan iklim di berbagai sektor secara faktual telah terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Meskipun demikian, di tingkat lokal belum terdapat kapasitas baik berupa pengetahuan dan sumberdaya yang layak dalam menghadapi dampak dan risiko iklim tersebut.
"Bersama berbagai pihak terkait, menyusun basis ilmiah terkait proyeksi iklim, meningkatkan kapasitas para pihak terhadap perubahan iklim. Kami juga mengkaji dampak dan risiko iklim secara partisipatif serta mengembangkan rencana aksi untuk mengurangi risiko dan kerugian akibat perubahan iklim yang sesuai dengan kondisi lokal," tutur Mega.
Diantara berbagai upaya tersebut, lembaga ini juga ikut formulasikan sejumlah praktik baik yang dapat direplikasi maupun dikembangkan di wilayah-wilayah lain yang memiliki tantangan dan risiko iklim yang serupa.
Bintari memandang isu pengelolaan sampah secara komprehensif dari hulu hingga hilir. "Kami bekerja dengan kombinasikan konsep sirkular ekonomi dan pengembangan tata kelola persampahan berbasis spesial dan kewenangan dan secara nyata menerjemahkan konsep 3R (reduce, reuse, recycle) ke dalam level operasional," tuturnya.
Dalam pengelolaan sampah, Bintari memandang bahwa tidak ada ukuran yang cocok untuk semua, sehingga tata kelola pengelolaan sampah dibangun secara spesifik berdasarkan karakteristik satuan wilayah. Dari prinsip tersebut, melahirkan berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah di sejumlah wilayah yang menjadi lokasi kerja
"Semakin meningkatnya angka kejadian bencana baik bencana hidrometeorologis maupun non hidrometeorologis mendorong Bintari untuk terlibat lebih jauh di dalam upaya pengurangan risiko bencana," ujar Mega.