Cuaca Ekstrem Nelayan Pantura Belu Tetap Melaut

  • 26 Feb 2026 10:08 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Sudah menjadi kebiasaan sejumlah warga nelayan di tengah ancaman cuaca ekstrem tetap beraktifitas melaut mencari hasil tangkapan ikan.. Aktifitas dilakukan itu pun tetap mempertimbangkan kondisi di perairan laut apabila memungkinkan baru mencari tangkapan ikan.

Pantauan rri.co.id seperti dilakukan warga nelayan Desa Dualaus Belu Senin 24 Februari 2026 kendati di tengah ancaman cuaca ekstrem tetap melaut.

Salah satu nelayan pesisir Desa Dualaus Horonimus ditemui rri.co.id mengatakan, sudah biasa diperhadapkan kondisi cuaca ekstrem saat melaut. Aktifitas dilakukan tetap berhitung apabila kondisi laut mereda baru melaut.

"Sudah biasa orang laut, tetap hitung laut kecil tidak berangin baru masuk cari ikan," ungkapnya

Terhitung bulan Januari-Februari dinamakan musim barat, hal ini ditandai turun hujan lebat disertai tiupan angin kencang menyebabkan gelombang tinggi, cukup berbahaya.

Mempertimbangkan kondisi yang ada saat melaut kebanyakan hanya menggunakan perahu dayung. Mencari tangkapan ikan pun di sekitar area pesisir tidak terlampau ke tengah dikuatirkan terseret gelombang.

"Kebanyakan hanya perahu dayung, buang jaring di sekitar tepi pantai. Kalau nekat perahu motor arus bawa bisa tenggelam itu yang tidak berani," ucap Horonimus.

Untuk tinggi gelombang sekitar perairan laut Timor Atapupu Belu berkisar 2 hingga 3 meter.

Pasang air laut turut berdampak terhadap berkurangnya hasil tangkapan ikan.

Jenis ikan hasil tangkapan lebih kebanyakan ikan tembang dan sedikit kombong.

Kebanyak rusak atau ikan afker hal ini dimungkinkan setelah terkena pukat nelayan kemudian tersapu gelombang. Ikan yang rusak pun tidak bisa dijual ke pasar.

Rekomendasi Berita