Ibadah dan Kebaikan Tidak Bisa Dipisahkan

  • 22 Agt 2025 13:43 WIB
  •  Atambua

KBRN, Atambua: Ketaatan beribadah sering kali diidentikkan dengan frekuensi datang ke rumah ibadah. Padahal konsep menjadi orang baik dan taat beribadah memiliki makna yang lebih luas.

Kepada rri.co.id, Kamis (21/8/2025) Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Belu, Nely Indah Rahmawati mengungkapkan hal tersebut.

Menurutnya, ibadah tidak hanya mencakup hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia.

"Ibadah yang sejati adalah ketika kita mampu mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dalam agama. Tidak hanya sebatas rajin beribadah ke masjid atau gereja tapi termasuk di dalamnya saling menghargai satu sama lain," kata Nely Indah Rahmawati.

Tambahnya, ibadah yang hanya fokus pada ritual tanpa diiringi kebaikan kepada sesama dapat kehilangan maknanya. Nely bahkan menggarisbawahi pentingnya menjaga lisan dan perbuatan.

Sering kali, lanjutnya, kata-kata yang diucapkan tanpa disadari dapat melukai perasaan orang lain. "Menjadi orang baik itu adalah wujud nyata dari keimanan seseorang."

"Keimanan harus tercermin dalam setiap perbuatan kita seperti memberi senyum, menyapa, atau sekadar menanyakan kabar. Itu semua adalah bentuk ibadah sosial yang sangat mulia," ujarnya.

Nely berharap masyarakat dapat memahami bahwa ibadah dan kebaikan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sehingga keduanya harus seimbang dan berjalan beriringan.

Rekomendasi Berita