Lapas Atambua Panen Sebanyak Dua Ton Jagung Hibrida

  • 12 Mar 2026 15:57 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Sebanyak 2 ton jagung hibrida berhasil dipanen oleh jajaran Lapas Kelas IIB Atambua dalam kegiatan panen raya yang berlangsung pada Rabu 11 Maret 2026. Komoditas ketahanan pangan ini merupakan hasil pembinaan kemandirian yang ditekuni oleh 20 warga binaan selama tiga bulan terakhir.

Kegiatan panen raya ini dipimpin langsung oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Atambua, Bambang Hendra Setyawan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti nyata institusi dalam mengimplementasikan Astacita Presiden Prabowo Subianto yang diimplementasikan melalui 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, yang memprioritaskan kemandirian pangan di lingkungan pemasyarakatan.

"Panen raya yang kita saksikan hari ini bukan sekadar aktivitas pertanian, melainkan wujud nyata pembinaan yang kami galakkan secara berkelanjutan. Fokus utama kami adalah proses rehabilitasi dan reintegrasi, agar warga binaan memiliki bekal keterampilan yang kuat untuk berdaya di tengah masyarakat setelah masa pidananya usai," kata Hendra.

Lebih lanjut, Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja (Kasubsi Giatja), Andra Sukabir, menjelaskan bahwa proses pascapanen akan dilakukan dengan teliti untuk menjaga kualitas produk. Jagung-jagung tersebut akan melewati proses pemipilan dan penjemuran terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke pembeli.

“Kami ingin memastikan produk yang keluar dari Lapas Atambua adalah produk terbaik. Oleh karena itu, jagung ini tidak langsung dijual, melainkan dipipil dan dijemur dulu agar kualitasnya terjaga bagi konsumen. Pengelolaan keuntungan hasil panen akan dikelola secara transparan dan akuntabel. Setelah dikurangi modal produksi, sebesar 40% akan disetorkan sebagai PNBP, 35% dibayarkan sebagai premi bagi WBP yang terlibat, dan 25% dialokasikan untuk Dana Pengembangan Cadangan Usaha demi menjamin kesinambungan program di masa mendatang” kata Andra.

Keberhasilan ini disambut antusias oleh para warga binaan yang terlibat langsung dalam proses tanam hingga panen. Salah seorang warga binaan, Ambraham Tefamnasi, mengaku bangga bisa berkontribusi positif bagi institusi dan negara.

"Pengalaman ini memberi kami harapan baru bahwa kami bisa tetap produktif meski sedang menjalani masa pembinaan. Keterampilan bertani ini akan menjadi modal kami untuk memulai hidup baru nanti," ujar Ambraham.

Panen raya jagung hibrida ini menjadi bukti nyata bahwa tembok penjara bukanlah penghalang untuk tetap berkarya. Dengan bekal keterampilan pertanian yang mumpuni, para warga binaan kini memiliki modal berharga untuk merajut masa depan yang lebih baik dan mandiri saat kembali ke tengah masyarakat nanti. (AS)

Rekomendasi Berita