Kemenhub Siapkan Strategi Hadapi Arus Balik Gelombang Dua di Ketapang–Gilimanuk

  • 27 Mar 2026 11:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Perhubungan bersama pemangku kepentingan menggelar rapat koordinasi di Banyuwangi pada 26 Maret 2026 untuk mengantisipasi lonjakan arus balik gelombang dua lintas Ketapang–Gilimanuk
  • Strategi utama mencakup optimalisasi buffer zone, delaying system, serta penyesuaian operasional kapal hingga maksimal 40 unit untuk mengurai kepadatan kendaraan
  • Data ASDP menunjukkan 114.255 kendaraan belum menyeberang, dengan puncak arus balik diprediksi terjadi pada H+6 atau 28 Maret 2026

RRI.CO.ID, Banyuwangi - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan menggelar rapat koordinasi menghadapi puncak arus balik gelombang dua Lebaran 2026. Rapat tersebut berlangsung di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Jawa Timur, pada Kamis tanggal 26 Maret 2026.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan kesiapan strategi penanganan arus kendaraan lintas Ketapang menuju Gilimanuk. Fokus utama pembahasan adalah pengaturan layanan penyeberangan agar tetap lancar saat lonjakan arus balik terjadi signifikan.

“Untuk mekanisme Tiba - Bongkar - Berangkat (TBB) kita memiliki parameter V/C ratio maksimal 0,6. Maka keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di lapangan," ucap Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan saat menyampaikan arahannya di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis, 26 Maret 2026.

Ia menyampaikan bahwa evaluasi dari periode arus mudik sebelumnya menjadi dasar penting dalam penyusunan strategi arus balik. Optimalisasi buffer zone serta delaying system dinilai krusial untuk mengurai antrean kendaraan menuju pelabuhan.

"Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Begitu pun dengan pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan kondusif," katanya.

Penempatan buffer zone untuk kendaraan roda empat dan bus telah disiapkan di kawasan Gran Watudodol serta Kantong Parkir Bulusan. Sementara itu, kendaraan barang diarahkan menuju buffer zone Sri Tanjung dan fasilitas parkir milik PT Pusri serta Pelindo.

Selain pengaturan darat, strategi juga mencakup pengoperasian kapal penyeberangan yang disesuaikan dengan kondisi kepadatan lalu lintas. Pada kondisi normal, sebanyak 28 kapal beroperasi, meningkat menjadi 30 kapal saat padat, dan 32 kapal ketika sangat padat.

"Apabila sangat diperlukan jumlah kapal bisa ditambah menjadi 35 sampai dengan 40 kapal. Dan akan ada 2 kapal bantuan yang kapasitasnya 60 hingga 80 kendaraan," ucapnya.

Data PT ASDP Indonesia Ferry mencatat pada H+1 hingga H+3 sebanyak 41.526 kendaraan telah menyeberang menuju Bali. Rinciannya meliputi 24.093 sepeda motor, 14.179 mobil, 927 bus, serta 2.327 truk dengan berbagai persentase kategori.

"Dari jumlah tersebut masih terdapat 114.255 kendaraan (73%) yang belum menyeberang ke Bali. ASDP memprediksi arus balik tertinggi jatuh pada H+6 atau tanggal 28 Maret 2026," katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara operator pelabuhan, TNI, Polri, Dinas Perhubungan, serta seluruh pemangku kepentingan terkait. Kolaborasi yang baik diharapkan mampu mewujudkan arus balik yang selamat, aman, dan berjalan lancar sesuai harapan bersama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....