Kemenhub Bersiap Hadapi Arus Balik Gelombang Dua di Lintas Ketapang - Gilimanuk

  • 26 Mar 2026 23:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenhub mulai melakukan persiapan menghadapi arus mudik gelombang dua di Lintas Ketapang-Gilimanuk
  • Arus balik gelombang dua di Lintas Ketapang-Gilimanuk diperkirakan jatuh pada 28 Maret 2026

RRI.CO.ID, Jakarta- Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mulai bersiap menghadapi arus balik gelombang dua di Lintas Ketapang-Gilimanuk. Sejumlah persiapan mulai dimatangkan bersama para pemangku kepentingan lainnya guna menjamin kelancaran arus balik.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, mengatakan puncak arus balik gelombang kedua akan jatuh pada 28 Maret mendatang. Hal ini mengacu pada prediksi PT ASDP Indonesia Ferry.

Ia juga menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun oleh ASDP pada H+1 hingga H+3 Produksi Kendaraan yang sudah menyeberang ke Bali sebanyak 41.526 kendaraan. Adapun rinciannya roda dua sebanyak 24.093 unit (25%), roda empat sebanyak 14.179 unit (34%), bus sebanyak 927 unit (20%) dan truk sebanyak 2.327 (17%).

"Dari jumlah tersebut masih terdapat 114.255 kendaraan (73%) yang belum menyeberang ke Bali. Dan ASDP memprediksi arus balik tertinggi jatuh pada H+6 atau tanggal 28 Maret 2026," katanya, Kamis, 26 Maret 2026.

Aan menambahkan, layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk menjadi prioritas pada arus balik ini. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang diperhatikan betul misalnya mengenai mekanisme Tiba - Bongkar - Berangkat (TBB).

"Untuk mekanisme TBB kita memiliki parameter V/C ratio maksimal 0,6. Maka keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di lapangan," katanya.

Ia juga menekankan, hasil dari evaluasi arus mudik yang lalu mengharuskan adanya optimalisasi buffer zone dan delaying system. Yang berperan untuk mengurai antrian kendaraan yang akan menuju ke area pelabuhan.

"Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Begitu pun dengan pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan kondusif," katanya.

Adapun untuk buffer zone kendaraan roda empat dan bus dialokasikan di Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara untuk kendaraan barang di buffer zone Sri Tanjung dan Kantong Parkir PT Pusri dan Pelindo.

Selain itu, yang menjadi strategi lainnya adalah pengoperasian kapal. Di mana kondisi normal sebanyak 28 kapal beroperasi, sedangkan untuk kondisi padat 30 kaal dan 32 saat kondisi sangat padat.

"Apabila sangat diperlukan jumlah kapal bisa ditambah menjadi 35 sampai dengan 40 kapal. Serta akan ada 2 kapal bantuan yang kapasitasnya 60 hingga 80 kendaraan," katanya.

Pihaknya juga menekankan perlunya komunikasi dan sinergi yang baik di antara operator pelabuhan, TNI/Polri, Dinas Perhubungan dan stakeholder lainnya. Sehingga terwujud arus balik yang selamat, aman dan kondisi lancar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....