Rindu di Peron Stasiun: Keluarga Surabaya Rela Susul Anak ke Jakarta
- 21 Mar 2026 11:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Keluarga asal Surabaya rela mengubah tradisi mudik ke Banyuwangi demi menemui anak yang bertugas di Jakarta.
- Mereka menempuh perjalanan kereta dan tiba di Stasiun Gambir untuk merayakan Lebaran bersama setelah 8 bulan berpisah.
- Kisah ini menunjukkan bahwa kebahagiaan Lebaran terletak pada kebersamaan keluarga, bukan lokasi perayaan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Deru roda kereta api dari Surabaya membawa sejuta kerinduan yang mendalam menuju peron Stasiun Gambir. Keluarga kecil ini rela mengubur tradisi mudik ke Banyuwangi demi mendekap erat sang anak di perantauan.
Kepala keluarga dari keluarga kecil asal Surabaya Yudhy mengatakan tradisi tahunan mereka berubah total pada tahun ini. Ia memutuskan untuk mengubah rute perjalanan demi menyambangi anak pertama yang sedang bertugas di Jakarta.
"Biasanya kami sekeluarga selalu melaksanakan salat Ied di Surabaya sebelum langsung bertolak mudik ke Banyuwangi. Tahun ini tradisi tersebut berubah total karena kami harus menyambangi anak pertama yang tidak bisa meninggalkan tugasnya di Jakarta," ujar Yudhy saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2026
Yudhy mengaku kelelahan selama menempuh perjalanan jauh di dalam gerbong kereta api seketika sirna. Ia merasa sangat bahagia ketika melihat wajah anak tertua sudah menunggu kedatangan mereka di stasiun.
"Kami menempuh perjalanan cukup jauh dengan kereta api dari Surabaya dan turun di Stasiun Gambir. Rasa lelah di gerbong seketika sirna begitu melihat wajah anak tertua kami menunggu di peron," kata Yudhy.
Seorang ibu dari keluarga kecil asal Surabaya, Kurnia merasa suasana Lebaran akan terasa sangat hampa tanpa kehadiran anak sulungnya. Ia akhirnya sepakat untuk mengalah dan menempuh jarak ratusan kilometer menuju arah ibu kota Jakarta.
"Rasanya ada yang kurang kalau hari pertama Lebaran tidak berkumpul lengkap dengan anak di rumah atau di Banyuwangi. Kami akhirnya sepakat untuk mengalah dan datang jauh-jauh dari Jawa Timur agar suasana hangat keluarga tetap terasa di ibu kota," ujar Kurnia.
Kurnia secara khusus menyiapkan hidangan krengsengan daging favorit sang anak langsung dari dapur rumah mereka. Makanan tradisional tersebut menjadi penawar rindu yang paling ampuh setelah delapan bulan tidak bertemu fisik.
"Saya sengaja membawakan oleh-oleh khas dari Jawa Timur dan memasakkan krengsengan daging kesukaannya dari rumah. Makanan ini adalah pengobat rindu paling ampuh karena dia sudah delapan bulan tidak pulang ke Surabaya," kata Kurnia.
Adik dari anak sulung tersebut Aura merasakan atmosfer perayaan Idulfitri yang sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Ia kini merayakan hari kemenangan di tengah hiruk pikuk Jakarta daripada menuju rumah nenek di Banyuwangi.
"Biasanya momen setelah salat Ied itu kami habiskan di perjalanan darat menuju rumah nenek di Banyuwangi. Sekarang suasananya sangat berbeda karena kami justru merayakan Lebaran di tengah hiruk pikuk Jakarta demi kakak," ujar Aura.
Aura merasa sangat bersyukur karena akhirnya bisa memberikan pelukan hangat secara langsung kepada sang kakak. Pertemuan fisik ini terasa jauh lebih membahagiakan daripada hanya sekadar melakukan panggilan video saja.
"Selama delapan bulan ini kami hanya bisa saling sapa melalui panggilan video atau video call saja. Rasanya sangat berbeda dan jauh lebih membahagiakan ketika bisa bersentuhan serta berpelukan secara langsung di Jakarta," kata Aura.
Keluarga ini sepakat bahwa esensi kebahagiaan sejati terletak pada kehadiran anggota keluarga yang lengkap. Mereka merelakan tradisi lama demi memastikan sang anak tetap bisa menjalankan kewajibannya dengan tenang.
"Tahun ini kami merelakan tradisi mudik ke Banyuwangi di hari pertama Lebaran demi menyusul anak ke ibu kota. Kebahagiaan keluarga tidak lagi diukur dari tempatnya, melainkan dari kehadiran setiap anggota yang lengkap," ucap Yudhy.
Kehadiran fisik orang tua merupakan bentuk dukungan moral paling nyata bagi perjuangan karier anak di perantauan. Jarak Surabaya ke Jakarta bukan lagi masalah besar selama mereka bisa berkumpul kembali dalam kehangatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....