Pangdam Pattimura Diminta Prioritaskan Putra Daerah Setia NKRI
- 11 Sep 2026 04:17 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pengorbanan sejumlah negeri di Maluku dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta konsisten setia membela tanah air, tetapi diabaikan. Sebaliknya, dalam kebijakan pembinaan dan rekrutmen prajurit TNI Angkatan Darat di Maluku, negeri-negeri yang tercatat memihak gerakan separatis lebih mendapat perhatian.
“Putra-putri dari negeri-negeri yang memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan NKRI, terutama negeri-negeri yang pernah menjadi sasaran kekerasan dan pembumihangusan oleh gerakan Republik Maluku Selatan, telah diabaikan,” kata Wakil Ketua GP Ansor Kota Ambon, Faisal Marasabessy, Kamis, 10 September 2026
Maka Faisal Marasabessy meminta Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto tidak mengabaikan pengorbanan Maluku kepada NKRI. Idealnya, TNI wajib memberi perhatian khusus kepada putra-putri dari negeri-negeri yang setia dan telah berkorban, tidak sebaliknya memprioritaskan negeri-negeri yang memiliki potensi menghidupkan RMS.
Menurut Faisal, sejarah tersebut tidak boleh berhenti sebagai catatan masa lalu. Negara perlu menghadirkan pengakuan dalam bentuk kebijakan yang memberi ruang lebih besar bagi generasi penerus masyarakat yang telah membayar mahal kesetiaannya kepada Republik Indonesia.
“Di Negeri Kailolo, pada 16-18 Agustus 1950, kampung kami habis dibakar oleh separatisme RMS. Seluruh harta benda, bahkan kekayaan intelektual berupa kitab-kitab, ikut lenyap. Kekejaman RMS menyebabkan 72 warga meninggal, termasuk ulama kami yang juga ikut berkontribusi dalam NU di Maluku,” ungkapnya.
Kailolo, lanjut Faisal Marasabessy, tidak hanya menjadi korban konflik. Masyarakatnya ikut ambil bagian dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia. Masyarakat Kailolo saat itu melakukan apa yang dapat disebut sebagai perang rakyat semesta. Mereka mempertahankan wilayah dan kedaulatan NKRI dengan menyerahkan jiwa, raga dan harta benda.
Ingatan sejarah serupa juga melekat bagi generasi di Negeri Latu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Marasabessy menjelaskan, pada 29 September 1950 terjadi pembantaian yang menewaskan ratusan warga. Data yang berkembang di tengah masyarakat menyebut sekitar 760 orang meninggal. Dari sejumlah kesaksian sejarah, diperkirakan jumlah korban lebih dari seribu orang.
Di Negeri Sepa, pembumihangusan juga menjadi bagian dari sejarah kelam masyarakat dalam menghadapi gerakan RMS. Bagi Marasabessy, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan satu hal penting : sejumlah negeri di Maluku telah membuktikan keberpihakannya kepada NKRI bukan melalui slogan, melainkan melalui pengorbanan nyata.
“Negeri-negeri yang dibumihanguskan oleh separatisme RMS itu tak diragukan lagi keberpihakan mereka terhadap NKRI. Mereka telah mati berkali-kali untuk mempertahankan republik ini,” tegasnya.
Karena itu, Faisal meminta Pangdam XV/Pattimura menjadikan sejarah tersebut sebagai salah satu dasar dalam merumuskan kebijakan pembinaan sumber daya manusia dan rekrutmen prajurit TNI AD di Maluku.
Ia mengusulkan agar putra-putri dari negeri-negeri yang memiliki rekam sejarah perjuangan mempertahankan NKRI mendapat prioritas atau afirmasi dalam proses penerimaan anggota TNI AD, dengan tetap mengikuti seluruh ketentuan, standar dan persyaratan resmi yang berlaku.
Menurutnya, afirmasi tersebut penting bukan untuk menghapus standar profesionalisme TNI, melainkan memberikan pengakuan terhadap daerah-daerah yang memiliki sejarah pengorbanan dalam mempertahankan negara.
“Kami meminta perhatian khusus dari Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto, agar putra-putri dari negeri-negeri yang punya ingatan sejarah kelam terhadap kekejaman separatisme itu punya kategori khusus untuk diterima sebagai anggota TNI AD,” kata Faisal Marasabessy.
Ia menilai, pendekatan tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat hubungan TNI dengan masyarakat Maluku. Rekrutmen putra-putri daerah bukan sekadar persoalan pekerjaan, tetapi juga menyangkut kesinambungan sejarah pengabdian masyarakat kepada negara.
Ia berharap Pangdam XV/Pattimura tidak melihat usulan tersebut semata sebagai permintaan politik atau kepentingan kelompok. Menurutnya, persoalan ini berangkat dari sejarah pengorbanan masyarakat yang perlu dibaca sebagai bagian dari sejarah mempertahankan NKRI di Maluku.
“Kalau orang tua mereka dahulu menyerahkan jiwa dan hartanya untuk mempertahankan NKRI, sudah semestinya anak cucunya diberikan ruang untuk melanjutkan pengabdian itu melalui institusi TNI,” harap Faisal Marasabessy.
Negara, menurut Faisal Marasabessy perlu memastikan bahwa generasi yang lahir dari negeri-negeri yang pernah menjadi medan pertahanan NKRI memiliki kesempatan yang terbuka untuk meneruskan pengabdian tersebut.
Ia juga berharap, Pangdam XV/Pattimura dapat menjadikan usulan itu sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pembinaan serta rekrutmen prajurit TNI AD di Maluku.
“Sejarah pengorbanan itu harus punya konsekuensi dalam kebijakan. Jangan sampai generasi hari ini hanya diminta mengingat sejarah, tetapi negara tidak hadir memberikan ruang bagi mereka untuk meneruskan pengabdian para leluhurnya,” Tutup Marasabessy.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....