Gubernur Maluku Tampung Aspirasi Raja-Raja Manusela Soal Infrastruktur Dasar
- 29 Agt 2026 20:13 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Persoalan infrastruktur jalan, pendidikan dan kesehatan menjadi sejumlah aspirasi yang disampaikan sembilan raja dari negeri/desa penyangga Taman Nasional Manusela kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa. Aspirasi itu disampaikan saat para raja dari 13 negeri/desa penyangga kawasan Gunung Manusela dan Maraina, Kabupaten Maluku Tengah, menemui Lewerissa di kediaman Gubernur di Mangga Dua, Ambon, pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Gubernur Hendrik menegaskan Pemerintah Provinsi Maluku terbuka terhadap berbagai aspirasi masyarakat dan akan mengambil peran sesuai kewenangan yang dimiliki, termasuk melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah untuk persoalan pelayanan dasar. Terkait fasilitas kesehatan, khususnya puskesmas, Gubernur menyebut kewenangannya berada pada pemerintah kabupaten.
Sementara untuk pendidikan, Pemprov Maluku kata Gubernur juga akan memberi perhatian terhadap kondisi sekolah dan kebutuhan masyarakat di negeri-negeri yang berada di kawasan tersebut. Ia mengatakan pemerintah harus mampu mendengar dan merespons aspirasi masyarakat.
Karena itu, masukan yang disampaikan para raja tersebut akan menjadi bahan untuk ditindaklanjuti melalui koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pihak terkait.
NEGERI PENYANGGAH MANUSELA
Kawasan Taman Nasional Manusela dikelilingi oleh sekitar 27 negeri/desa penyangga yang tersebar di wilayah Kecamatan Seram Utara dan Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah. Hubungan antara batas konservasi dan ruang hidup masyarakat adat di negeri-negeri ini sangat erat dan kerap menjadi perhatian.
Negeri-negeri yang berada di Kecamatan Seram Utara meliputi Manusela:(salah satu negeri adat tertua yang letaknya dikelilingi langsung oleh kawasan hutan taman nasional di bawah kaki Gunung Murkele dan Gunung Hoale), Maraina (di kawasan pegunungan pedalaman yang berbatasan langsung dengan inti taman nasional), Sawai & Masihulan (pintu masuk ekowisata, pengamatan burung endemik, dan pengelolaan mangrove), Saleman (di pesisir utara dan menjadi salah satu area penyangga produktif), serta Roho, Kanikeh, Kaloa, Hatuolo, dan Solea (di pedalaman Seram Utara yang wilayah hutan adatnya bersinggungan langsung dengan batas peta zonasi taman nasional)
Sedangkan di Kecamatan Tehoru (Seram Selatan), meliputi Piliana (dijuluki "Negeri di Atas Awan", sekaligus pintu jalur pendakian utama menuju Puncak Gunung Binaiya), Hatumete (titik penyangga di wilayah pesisir selatan), serta Mosso, Saunulu, Unilu, dan Iliana (negeri penyangga yang aktif menerima program kemitraan konservasi serta bantuan ekonomi produktif untuk pemberdayaan masyarakat lokal)
Negeri-negeri ini memiliki peran krusial sebagai benteng perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus penjaga hak-hak wilayah adat yang sudah ada secara turun-temurun di Pulau Seram.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....