Dosen STIKes Maluku Husada Sulap Galoba Jadi Sirup Bernilai Ekonomi

  • 26 Agt 2026 11:06 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Potensi buah Galoba di Desa Uraur, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, mulai dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan peluang ekonomi bagi masyarakat. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kemitraan, dosen STIKes Maluku Husada memberikan pelatihan dan pendampingan kepada Kelompok Ibu Wadah dalam mengolah buah Galoba menjadi sirup.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 02-04 Juli 2026 tersebut mengusung judul resmi “Inovasi Produk Sirup Buah Galoba sebagai Minuman Fungsional Peningkat Imunitas dan Penguatan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal melalui Pelatihan Pembuatan Sirup Galoba.”

Tim PKM STIKes Maluku Husada diketuai oleh Wiwi Rumaolat, S.Pd., M.Si.Med, dengan anggota Mohammad Dahlan Sely, SE., M.Si dan Apt. Jayanti Djarami, S.Farm., M.Si. Sementara itu, mitra dalam kegiatan ini adalah Kelompok Ibu Wadah yang diketuai oleh Ibu Sience Naomi Sohilait.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal agar dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Dari Buah Galoba Menjadi Produk Bernilai Jual

Selama ini, buah galoba telah dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara tradisional. Melalui kegiatan PKM ini, masyarakat diperkenalkan pada inovasi pengolahan galoba menjadi minuman sirup yang lebih praktis, menarik, dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk UMKM. Kelompok Ibu Wadah tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengolahan. Pendampingan dimulai dari persiapan bahan baku, proses pengolahan buah galoba, pembuatan sirup, hingga menghasilkan produk yang siap dikemas dan dipasarkan.

Tim dosen memberikan pendampingan pada setiap tahapan agar peserta memahami proses produksi secara menyeluruh. Aspek kebersihan dan kualitas produk juga menjadi perhatian penting selama proses pengolahan. Setelah proses produksi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pengemasan. Peserta diberikan pemahaman bahwa kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik dan identitas produk di mata konsumen.

Produk sirup galoba yang telah dikemas kemudian dipersiapkan untuk dipasarkan. Peserta juga mendapatkan pendampingan terkait penentuan harga jual serta pengenalan produk kepada calon konsumen.

Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Ketua Tim PKM, Wiwi Rumaolat, S.Pd., M.Si.Med, mengatakan bahwa kegiatan tersebut diarahkan agar potensi lokal yang tersedia di Desa Uraur tidak hanya dimanfaatkan secara tradisional, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk inovatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat, khususnya Kelompok Ibu Wadah, untuk melihat galoba bukan hanya sebagai bahan pangan lokal, tetapi juga sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi,” ujar Wiwi.

Menurutnya, pendampingan tidak berhenti pada proses pembuatan sirup, tetapi mencakup tahapan pengemasan hingga pengenalan pemasaran produk. Dengan demikian, masyarakat diharapkan memiliki keterampilan yang lebih lengkap untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Sementara itu, Ketua Kelompok Ibu Wadah, Sience Naomi Sohilait, menyambut baik kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh dosen STIKes Maluku Husada. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi kelompok dalam mengembangkan bahan lokal menjadi produk yang dapat dipasarkan.

Keterlibatan kelompok perempuan dalam pengembangan produk lokal juga dinilai dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam kegiatan ekonomi kreatif di tingkat desa.

Diharapkan Menjadi Produk Unggulan Desa

Tim PKM STIKes Maluku Husada berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan selama tiga hari. Kelompok Ibu Wadah didorong untuk melanjutkan produksi secara mandiri, melakukan perbaikan kualitas produk dan kemasan, serta mengembangkan strategi pemasaran secara berkelanjutan.

Pengembangan sirup buah galoba juga diharapkan dapat menjadi embrio usaha produktif masyarakat Desa Uraur. Dengan mengangkat bahan pangan lokal, produk tersebut berpotensi menjadi salah satu identitas produk olahan khas desa sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal Maluku kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi STIKes Maluku Husada, kegiatan PKM ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat. Pendekatan berbasis potensi lokal diharapkan dapat menghasilkan kegiatan pemberdayaan yang berkelanjutan dan sesuai dengan karakteristik masyarakat serta sumber daya yang tersedia di wilayah tersebut.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut ditutup dengan evaluasi hasil pelatihan dan pendampingan. Evaluasi dilakukan untuk melihat hasil proses produksi sekaligus memberikan arahan lanjutan terkait peningkatan kualitas kemasan, keberlanjutan produksi, penentuan harga, dan perluasan pemasaran serta penyerahan Teknologi Tepat Guna (TTG).

Tim PKM Serahkan Teknologi Tepat Guna kepada Kelompok Mitra

Selain memberikan pelatihan dan pendampingan, Tim PKM STIKes Maluku Husada juga menyerahkan teknologi tepat guna (TTG) kepada Kelompok Ibu Wadah sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan produksi sirup buah galoba.

Pemberian teknologi tepat guna tersebut merupakan bentuk transfer pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi kepada masyarakat. Teknologi yang diberikan diharapkan dapat membantu kelompok mitra dalam meningkatkan efektivitas proses produksi, menjaga kualitas produk, serta mempermudah pengembangan usaha sirup galoba secara berkelanjutan.

Penyerahan teknologi tepat guna dilakukan langsung oleh Tim PKM STIKes Maluku Husada kepada Ketua Kelompok Ibu Wadah, Ibu Sience Sohilait, sebagai perwakilan kelompok mitra. Dalam kesempatan tersebut, tim juga memberikan penjelasan dan pendampingan mengenai cara penggunaan serta pemanfaatan teknologi tersebut dalam proses produksi.

Ketua Tim PKM, Wiwi Rumaolat, S.Pd., M.Si.Med, menjelaskan bahwa pemberian teknologi tepat guna merupakan bagian penting dari rangkaian kegiatan PKM karena diharapkan dapat membantu mitra melanjutkan proses produksi setelah kegiatan pendampingan berakhir.

“Teknologi tepat guna ini kami berikan agar kelompok mitra tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pelatihan, tetapi juga memiliki sarana pendukung yang dapat digunakan untuk melanjutkan produksi secara mandiri. Harapannya, keterampilan dan teknologi yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mengembangkan usaha sirup galoba,” ujarnya.

Dengan adanya dukungan teknologi tepat guna, Kelompok Ibu Wadah diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, menghasilkan produk yang lebih konsisten, serta meningkatkan daya saing sirup galoba di pasar.

Pemberian TTG tersebut sekaligus memperkuat tujuan kegiatan PKM yang mengusung tema “Inovasi Produk Sirup Buah Galoba sebagai Minuman Fungsional Peningkat Imunitas dan Penguatan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal.” Kegiatan tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan masyarakat, tetapi juga diarahkan pada terciptanya usaha produktif yang dapat terus dikembangkan oleh kelompok mitra setelah program selesai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....