Resistensi Antibiotik Jadi Ancaman, Inovasi Terapi Dinilai Semakin Dibutuhkan
- 01 Agt 2026 10:11 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) kini menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi yang sering disebut sebagai silent pandemic atau pandemi senyap ini terjadi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga infeksi semakin sulit diobati dan berisiko menimbulkan komplikasi serius.
Dilansir dari Kompas Health, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,27 juta orang meninggal secara langsung akibat AMR pada 2019. Jika tidak ditangani secara efektif, angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga 10 juta kematian setiap tahun pada 2050.
Di Indonesia, ancaman resistensi antibiotik juga terus meningkat. Berdasarkan data Global Research on Antimicrobial Resistance (GRAM), pada 2021 tercatat sekitar 36.500 kematian yang secara langsung disebabkan oleh AMR. Selain itu, sekitar 147.000 kematian berkaitan dengan infeksi yang melibatkan bakteri resisten terhadap antibiotik, dengan kelompok lanjut usia menjadi salah satu yang paling rentan.
Kondisi ini semakin menjadi tantangan ketika infeksi terjadi pada pasien dengan kondisi kritis, terutama yang dirawat di ruang perawatan intensif atau intensive care unit (ICU). Dalam situasi tersebut, pilihan antibiotik yang masih efektif sering kali semakin terbatas karena bakteri penyebab infeksi telah kebal terhadap berbagai jenis obat.
Country Medical Lead Pfizer Indonesia, dr. Dicky Teguh Santoso, mengatakan infeksi akibat bakteri resisten di ICU dapat secara signifikan membatasi pilihan terapi yang tersedia. Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan kompleksitas penanganan pasien dan menegaskan pentingnya memastikan ketersediaan opsi pengobatan yang memadai.
Gambaran tersebut juga terlihat dalam hasil program Pfizer Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance (ATLAS) yang menganalisis lebih dari 245 ribu isolat klinis dari berbagai rumah sakit di dunia selama periode 2020–2024. Hasilnya menunjukkan sekitar satu dari empat bakteri yang ditemukan telah mengalami resistensi terhadap beberapa kelas antibiotik atau multidrug-resistant (MDR).
| Baca juga: Gula Aren Lebih Sehat? Jangan Salah Kaprah! |
Selain itu, hampir 10 persen isolat yang diteliti tergolong difficult-to-treat resistant (DTR), yaitu bakteri yang tidak lagi merespons terapi antibiotik standar. Penelitian tersebut juga menemukan ribuan isolat penghasil enzim metallo-beta-lactamase (MBL), yang mampu menonaktifkan antibiotik golongan karbapenem, salah satu pilihan utama dalam menangani infeksi berat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pfizer terus mengembangkan inovasi terapi dalam penanganan infeksi akibat bakteri resisten. Salah satunya melalui kombinasi aztreonam dan avibactam yang dirancang untuk membantu mengatasi infeksi akibat bakteri yang sudah tidak merespons antibiotik standar.
Terapi tersebut bekerja melalui dua mekanisme yang saling melengkapi. Aztreonam memiliki kemampuan menyerang bakteri sekaligus tahan terhadap enzim MBL, sedangkan avibactam berfungsi melindungi aztreonam dari enzim resistensi lain yang dapat menurunkan efektivitasnya. Inovasi tersebut kini telah memperoleh Nomor Izin Edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Cluster President Malaysia, Indonesia, Singapore, Philippines (MISP) Cluster International Commercial Division Pfizer, Deborah P. Seifert, mengatakan penanganan AMR membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, regulator, tenaga kesehatan, akademisi, hingga industri farmasi. Menurutnya, kerja sama tersebut penting untuk memastikan pasien memperoleh akses terhadap terapi yang tepat waktu dan berbasis bukti ilmiah.
Melalui penguatan inovasi dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan upaya pengendalian resistensi antibiotik di Indonesia dapat semakin efektif. Langkah tersebut juga sejalan dengan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba 2025–2029 yang bertujuan menekan angka kesakitan dan kematian akibat infeksi bakteri resisten.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....