WHO Ingatkan Risiko Virus Nipah meski Kasus Mereda India
- 29 Jun 2026 17:12 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Kasus virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan satu kasus terkonfirmasi di negara bagian Kerala, India, pada Juni 2026. Meski situasi di wilayah tersebut mulai mereda dan belum ditemukan penularan lanjutan, WHO menegaskan pengawasan tetap dilakukan karena sumber infeksi belum diketahui secara pasti.
Dilansir dari Kompas.com, pasien yang terinfeksi merupakan seorang pria dewasa asal Distrik Kozhikode yang mulai mengalami gejala pada 30 Mei 2026 dan dirawat di rumah sakit pada 10 Juni 2026. Pasien dilaporkan mengalami gangguan neurologis dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif dengan bantuan ventilator.
Setelah kasus terkonfirmasi, otoritas kesehatan setempat melakukan pelacakan kontak secara menyeluruh. Sebanyak 104 orang, termasuk tenaga kesehatan, telah diidentifikasi sebagai kontak erat pasien. Namun, hingga 18 Juni 2026, WHO menyatakan belum ditemukan adanya penularan lanjutan dari kasus tersebut.
Meski seluruh kontak yang menjalani isolasi telah dipulangkan dan hasil pemeriksaan terhadap 14 orang bergejala menunjukkan hasil negatif, pengawasan kesehatan masih terus dilakukan. Sejumlah tenaga kesehatan juga masih menjalani observasi sebagai langkah antisipasi.
WHO menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, mengonsumsi makanan yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar, serta melalui kontak erat dengan penderita yang terinfeksi.
Gejala awal infeksi virus Nipah umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami pusing, gangguan kesadaran, radang otak (ensefalitis), gangguan pernapasan, hingga kejang dan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
WHO menyebut virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen berdasarkan berbagai wabah yang pernah terjadi di Bangladesh, India, Malaysia, dan Singapura. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus yang disetujui untuk mengobati infeksi virus Nipah sehingga penanganan difokuskan pada perawatan suportif untuk mengatasi komplikasi yang muncul.
Meski wabah saat ini masih terbatas pada satu kasus, WHO mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama karena Kerala merupakan wilayah yang beberapa kali melaporkan kasus virus Nipah sejak 2018. Organisasi tersebut juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rekomendasi pembatasan perjalanan maupun perdagangan, namun masyarakat diimbau menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan virus tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....