PBB: Miliaran Orang Masih Sulit Menjangkau Pola Makan Sehat

  • 26 Jul 2026 21:26 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Menerapkan pola makan sehat masih menjadi tantangan besar bagi miliaran penduduk dunia. Kendala utamanya bukan hanya soal kesadaran akan pentingnya gizi seimbang, tetapi juga tingginya biaya untuk memperoleh makanan bergizi yang sesuai kebutuhan tubuh.

Dilansir dari Kompas Health, laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa sekitar 2,69 miliar orang di dunia masih belum mampu membeli makanan beragam yang dapat memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi harian mereka. Temuan tersebut tercantum dalam laporan tahunan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang disusun oleh lima badan PBB.

Laporan tersebut memang menunjukkan kabar baik, yakni angka kelaparan global terus menurun selama tiga tahun berturut-turut. Pada 2025, sekitar 7,8 persen penduduk dunia mengalami kelaparan, turun dibandingkan 8,1 persen pada tahun sebelumnya. Namun, penurunan angka kelaparan belum berarti seluruh masyarakat telah memiliki akses terhadap makanan sehat.

Salah satu penyebab utama adalah tingginya biaya untuk memenuhi pola makan bergizi. PBB memperkirakan seseorang membutuhkan sekitar 4,28 dolar AS berdasarkan paritas daya beli (PPP) per hari untuk memperoleh makanan sehat. Nilai tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan ekstrem global yang berada di kisaran 3 dolar PPP per hari, sehingga banyak masyarakat berpenghasilan rendah kesulitan memenuhi kebutuhan gizi yang ideal.

Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Maximo Torero, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat banyak keluarga akhirnya memilih makanan yang lebih murah hanya untuk memenuhi kebutuhan kalori. Akibatnya, konsumsi makanan bergizi seperti buah, sayur, produk susu, dan sumber protein berkualitas menjadi semakin terbatas.

Menurut Torero, kebijakan subsidi pangan di banyak negara selama ini masih lebih berfokus pada bahan pangan pokok seperti serealia dan makanan bertepung. Kebijakan tersebut memang membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi belum mampu menyediakan pola makan yang beragam dan seimbang. Padahal, keberagaman makanan sangat penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Laporan tersebut juga menyoroti dampak pola makan yang kurang sehat terhadap meningkatnya kasus obesitas. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 12,1 persen pada 2012 menjadi 16,2 persen pada 2024. Kondisi ini turut meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker.

Afrika menjadi kawasan dengan tantangan terbesar dalam akses terhadap makanan sehat. Pada 2025, sekitar 66,6 persen penduduk Afrika dilaporkan tidak mampu membeli makanan bergizi. Wilayah ini juga mencatat jumlah penduduk yang mengalami kelaparan terbanyak di dunia, yakni sekitar 309 juta orang, melampaui kawasan Asia.

Melihat kondisi tersebut, PBB mendorong berbagai negara untuk meningkatkan investasi pada sektor pertanian, infrastruktur, serta sistem distribusi pangan agar harga makanan sehat menjadi lebih terjangkau. Perbaikan rantai pasok diyakini dapat menekan harga buah, sayuran, produk susu, dan sumber protein lainnya sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap pola makan bergizi.

Laporan tersebut menjadi pengingat bahwa menurunkan angka kelaparan saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh makanan sehat, bergizi, dan terjangkau demi menciptakan masyarakat yang lebih sehat di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....