Mata Kedutan Jangan Dianggap Sepele, Bisa Menjadi Tanda Gangguan Saraf

  • 09 Jun 2026 19:25 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Mata kedutan sering kali dianggap sebagai hal biasa dan bahkan dikaitkan dengan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Padahal, kondisi yang tampak ringan ini bisa menjadi sinyal dari gangguan kesehatan tertentu, terutama jika terjadi berulang dalam waktu lama dan disertai gejala lain yang mengganggu.

Mata kedutan merupakan kontraksi berulang pada otot kelopak mata yang terjadi secara spontan tanpa disadari. Kondisi ini umumnya hanya berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit dan sering kali hilang dengan sendirinya. Namun, pada sebagian orang, mata kedutan dapat berlangsung lebih lama dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Dilansir dari Alo Dokter, mata kedutan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, mulai dari kedutan ringan (minor), blefarospasme esensial jinak, hingga hemifacial spasm atau kejang pada satu sisi wajah. Kedutan ringan biasanya dipicu oleh kelelahan, stres, kurang tidur, konsumsi kafein berlebihan, merokok, atau iritasi pada mata.

Sementara itu, blefarospasme esensial jinak merupakan kondisi yang lebih serius karena menyebabkan kelopak mata berkedip atau menutup secara tidak terkendali. Kondisi ini umumnya terjadi pada kedua mata dan lebih sering dialami oleh perempuan usia lanjut. Dalam kasus tertentu, gejalanya dapat berkembang hingga mengganggu penglihatan.

Jenis lainnya adalah hemifacial spasm, yaitu kedutan yang tidak hanya terjadi pada mata tetapi juga menjalar ke bagian wajah lainnya pada satu sisi. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh pembuluh darah yang menekan saraf wajah sehingga memicu kontraksi otot yang berulang.

Selain faktor kelelahan dan gaya hidup, mata kedutan juga dapat menjadi gejala beberapa penyakit saraf. Di antaranya adalah Bell’s palsy, distonia, penyakit Parkinson, sindrom Tourette, hingga multiple sclerosis. Berbagai gangguan tersebut dapat memengaruhi fungsi saraf dan otot sehingga memicu gerakan yang tidak terkendali, termasuk pada kelopak mata.

Beberapa obat yang digunakan untuk menangani gangguan psikosis maupun epilepsi juga diketahui dapat menimbulkan efek samping berupa mata kedutan. Karena itu, penting untuk memperhatikan riwayat penggunaan obat apabila keluhan muncul secara berulang atau semakin sering terjadi.

Untuk mengurangi mata kedutan, sejumlah langkah sederhana dapat dilakukan, seperti mencukupi waktu istirahat, mengurangi konsumsi minuman berkafein dan alkohol, berhenti merokok, membatasi penggunaan gawai, serta menjaga kelembapan mata dengan tetes mata buatan atau kompres hangat.

Meski sebagian besar kasus tidak berbahaya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan apabila mata kedutan berlangsung selama berminggu-minggu, menyebabkan kelopak mata sulit dibuka, disertai mata merah dan bengkak, menjalar ke bagian wajah lain, atau muncul bersamaan dengan gangguan penglihatan. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....