Hidup dengan HIV Bukan Akhir, Edukasi dan Dukungan Jadi Kunci Lawan Stigma
- 28 Apr 2026 08:41 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon – Stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi tantangan serius di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Maluku. Minimnya pemahaman membuat sebagian orang masih menganggap HIV sebagai vonis kematian, padahal kondisi ini dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat.
Hal ini terungkap dalam program Siniar Keker yang menghadirkan, La Hajrin Ode (ODHIV Berdaya), serta Direktur Yayasan Pelangi Maluku, Rosa Pentury.
Rosa menjelaskan, kesalahan persepsi masyarakat seringkali muncul karena kurangnya edukasi. Banyak yang masih percaya bahwa HIV tidak memiliki pengobatan dan pasti berujung pada kematian.
“Kalau edukasi diberikan dengan baik, masyarakat akan lebih menerima. Orang dengan HIV bisa hidup normal seperti kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya pada aspek medis, tetapi juga stigma sosial yang membuat ODHIV kerap dijauhi, bahkan oleh lingkungan terdekatnya.
Sementara itu, La Hajrin membagikan pengalamannya saat pertama kali mengetahui status HIV pada 2016. Ia mengaku sempat menghadapi diskriminasi, bahkan dari lingkungan pelayanan kesehatan.
“Status saya sempat terbocor dan masyarakat jadi menjauh. Bahkan untuk berjabat tangan saja orang takut,” katanya.
Tidak hanya itu, ia juga mengalami perlakuan tidak menyenangkan di lingkungan keluarga, seperti peralatan makan yang ingin dibuang hingga tempat tidur yang hendak dimusnahkan.
Namun, dukungan keluarga dan komunitas menjadi faktor penting yang membantunya bangkit. Ia menegaskan bahwa penerimaan diri menjadi langkah awal untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
“Kalau kita tidak menerima, pengobatan juga akan terhambat. Saya memilih untuk fokus sehat dan bertahan,” ujarnya.
Rosa menambahkan, proses konseling bagi ODHIV harus dilakukan dengan pendekatan empati tanpa menghakimi. Konselor berperan penting dalam membantu individu menerima statusnya dan melanjutkan pengobatan.
“Kalau konseling salah, orang bisa merasa bersalah dan menutup diri. Padahal yang dibutuhkan adalah didengar, bukan dihakimi,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa saat ini pengobatan HIV melalui terapi antiretroviral (ARV) mampu menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi, sehingga risiko penularan dapat diminimalkan.
Meski demikian, kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV masih tergolong rendah, padahal layanan tersebut tersedia gratis di puskesmas.
“Tes HIV itu penting untuk mengetahui status. Semakin cepat diketahui, semakin cepat ditangani,” katanya.
Melalui momentum peringatan Hari AIDS Sedunia, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kepedulian dan menghapus stigma terhadap ODHIV.
“ODHIV tidak butuh dikasihani, tapi butuh dukungan. Stop stigma dan diskriminasi,” kata Lahajrin menutup perbincangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....