Sejarah Glider dan Perannya untuk Airborne Forces
- 26 Agt 2026 07:35 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Glider adalah pesawat tanpa mesin yang ditarik oleh tug aircraft untuk membawa pasukan, kendaraan, artileri, amunisi, dan perlengkapan langsung ke landing zone (LZ). Banyak peran dari glider ini mulai membawa troops sampai light tank seperti Tetrarch tanpa menggunakan parasut dan kapasitas yang lebih banyak. Karena itu semasa beberapa operasi di WWII menjadi salah satu fondasi kemampuan airborne rapid fast deployment.
Sebenarnya gagasan memakai glider untuk operasi militer muncul semasa peace time atau interwar. Jerman menjadi negara pertama yang menggunakan glider untuk mengirim airborne troops mereka, pada invasi Belgia tahun 1940 Luftwaffe menggunakan DFS 230 untuk mendaratkan pasukan di dekat Fort Eben Emael.
Glider memungkinkan pasukan penyerang mendarat secara relatif diam dan sangat dekat dengan sasaran, tanpa harus melakukan penerjunan dari ketinggian, Fort yang dianggap sangat kuat itu akhirnya direbut meski pada hari pertama operasi Jerman kehilangan 304 glider dan 51 lainnya rusak.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan dan diadaptasi besar besaran oleh Sekutu. Britannia mengembangkan Horsa, Hamilcar, Hotspur sedangkan Amerika menggunakan Waco CG-4A Hadrian. CG-4A merupakan glider transport AS yang paling banyak digunakan selama perang, Ia diawaki pilot dan kopilot, bisa membawa sekitar 13 pasukan beserta perlengkapannya atau kendaraan seperti Jeep, truk ringan, maupun howitzer 75 mm. Nose nya dapat dibuka sehingga kendaraan dan persenjataan bisa langsung diturunkan setelah mendarat, tak heran bila dia diproduksi lebih dari 12.000 unit. Tercatat juga pada Operation Market Garden misalnya, sekitar 13.781 dari 34.876 pasukan yang masuk melalui udara dibawa dengan glider bersama 1.689 vehicle, 290 howitzer, dan sekitar 1.259 ton amunisi serta suplai.
Keunggulan lainnya adalah Glider precision approach. Paratroopers bergantung pada angin, ketinggian, dan kemampuan mencari drop zone setelah keluar dari pesawat. Glider, meskipun masih rentan tersesat atau menyebar dia bisa diarahkan menuju LZ yang sudah ditentukan. Misalnya saat D-Day enam Horsa digunakan untuk operasi yang sangat terkenal di Pegasus Bridge. Pasukan yang dibawa glider mendarat sangat dekat dengan jembatan dan langsung menyerang posisi Jerman, berkat silent approach juga mengingat glider tidak berisik karena tidak memiliki engine dan terbang dengan energi potensial tergantung ketinggian dilepaskannya.
Kembali lagi ke konsekuensinya tanpa engine. Karena itu glider hampir tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan setelah dilepaskan, misalnya saja kalau tug aircraft salah arah, cuaca buruk, LZ tidak terlihat, atau glider terlalu cepat turun. Contoh saja operation Husky di Sisilia, dari 137 glider Inggris yang dilepaskan 69 jatuh ke laut sementara hanya 12 yang mencapai landing zone yang benar.
Era glider sebagai rapid fast deployment platform mulai berakhir setelah muncul nya Helikopter, STOL transport aircraft yang bisa mendarat di runway non aspal. Lagipula glider sangat membutuhkan tug aircraft seperti contohnya Halifax, Stirling (UK) dan C-47, C-46 (US) sehingga penggunaannya sudah tidak praktis lagi atau ribet.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....