Indonesia Menuju Jalur Ekonomi Kreatif Global

  • 06 Mei 2025 16:05 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon : Indonesia tengah melangkah pasti di jalur ekonomi kreatif global. Peringkat Global Innovation Index (GII) 2024 menunjukkan lonjakan signifikan.

"Lonjakan tersebut sangatlah signifikan, dari posisi 87 (2021) menjadi posisi 54 dunia. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kebangkitan budaya, inovasi, dan daya cipta Nusantara yang makin diakui dunia," tutur Pengamat Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo

Kepada rri Waluyo mengatakan, dari kriya hingga teknologi digital, potensi Indonesia sangat mumpuni. Tapi perlu strategi tepat agar tak hanya menjadi sorotan, tapi juga menjadi pemimpin.

Indonesia kini berada di peringkat 6 dunia dalam kolaborasi inovasi antara perguruan tinggi dan industri. Hal ini mendorong peningkatan skor GII dari 27,1 menjadi 30,6 dalam tiga tahun terakhir. Meski begitu, alokasi anggaran riset dan pengembangan (R&D) yang masih di bawah 1% PDB dinilai belum cukup untuk akselerasi lebih lanjut.

Kuliner, fesyen, dan kriya menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Indonesia. Bahkan dalam kategori aset tak berwujud, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia. Namun, pendapatan dari kekayaan intelektual masih perlu digenjot agar bisa bersaing dengan negara lain seperti Irlandia atau Amerika Serikat.

Ekspor kriya dan tekstil Indonesia telah menembus pasar global, namun masih di bawah performa negara pesaing seperti Meksiko. Pertumbuhan ekspor layanan ICT juga belum secepat negara seperti Irlandia dan Serbia. Sementara itu, Vietnam sudah melaju lebih cepat dalam ekspor teknologi tinggi.

Indonesia memiliki kekayaan talenta dari berbagai bidang, namun jumlah profesional di sektor STEAM masih tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia. Pertumbuhan startup digital membawa angin segar dengan semakin terbukanya lapangan kerja dan iklim bisnis yang makin kondusif.

Meski investasi langsung asing meningkat, Indonesia dinilai masih perlu memperluas akses pembiayaan untuk sektor kreatif, khususnya UMKM dan startup serta memperkuat perlindungan karya melalui sistem pendaftaran kekayaan intelektual yang lebih mudah dan insentif bagi kreator.

Harry Waluyo memberikan beberapa rekomendasi strategis:

- Meningkatkan anggaran R&D hingga 2% PDB.

- Membangun inkubator teknologi daerah sebagai “Silicon Valley” versi Indonesia.

- Mendorong ekspor kreatif melalui digitalisasi dan promosi global.

- Memberdayakan talenta lokal dengan pendidikan STEAM dan pelatihan digital.

- Mempermudah perlindungan hak kekayaan intelektual dan memperluas akses pendanaan.

- Digitalisasi warisan budaya lewat teknologi AR/VR.

- Membangun sistem pemantauan berbasis data GII untuk evaluasi tahunan.

Inilah waktunya Indonesia memimpin, bukan hanya dalam budaya, tetapi juga dalam kreativitas dan inovasi dunia.

"Indonesia tidak hanya membuktikan diri sebagai pewaris budaya, tetapi juga sebagai pionir di panggung ekonomi kreatif dunia," tutup Waluyo.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....