Permainan Tradisional Jadi Sarana Pelestarian Budaya dan Pendidikan

  • 16 Sep 2026 23:43 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Permainan tradisional dinilai tidak sekadar menjadi hiburan masa lalu, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan budaya yang penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda. Upaya pelestarian permainan tradisional pun terus dilakukan melalui kegiatan kepemudaan, pendidikan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

Peros D. Tomasoa, S.Pd (Waketum KPOTI Maluku) / (Foto: RRI)

Hal tersebut disampaikan Peros Tomasoa, S.Pd selaku Waketum KPOTI Maluku yang akrab disapa Peros, dalam dialog Pro 4 Paparisa Komunitas, 16 September 2026, mengenai Keberadaan dan pelestarian permainan tradisional di kalangan generasi muda. Menurutnya, semakin banyak anak-anak yang tidak lagi mengenal permainan tradisional menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan budaya tersebut.

“Melestarikan permainan tradisional juga merupakan upaya meningkatkan nilai-nilai yang ada sejak zaman dahulu untuk dilestarikan sampai kepada masyarakat yang akan datang,” ujar Peros.

Ia menjelaskan, pentingnya permainan tradisional tidak hanya terletak pada bentuk permainannya, tetapi terutama pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai tersebut dinilai masih relevan untuk ditanamkan kepada generasi muda di tengah perkembangan zaman.

Ketua Cabang AMGPPM Tiberias II, Daniel Zeth Matitaputty. (Foto: RRI)

Upaya pelestarian permainan tradisional juga dilakukan oleh Cabang AMGPPM Tiberias II melalui kegiatan olahraga cabang atau Porcab. Ketua Cabang AMGPPM Tiberias II, Daniel Zeth Matitaputty, mengatakan kegiatan tersebut telah berlangsung sejak 2023 dan pada 2026 memasuki musim atau season keempat.

Menurut Daniel, dalam kegiatan Porcab terdapat sejumlah perlombaan permainan tradisional yang melibatkan anggota muda maupun anak-anak sekolah.

“Dari tahun 2023 sampai 2026, kita membuat satu kegiatan yaitu Porcab. Di dalamnya ada lomba-lomba permainan tradisional,” kata Daniel.

Pada season keempat tahun 2026, terdapat lima mata lomba permainan tradisional. Kegiatan tersebut melibatkan tujuh ranting serta pengurus cabang yang membentuk tim untuk melengkapi peserta pada sejumlah perlombaan.

Jumlah peserta tahun ini mencapai sekitar 210 orang. Selain anggota muda, dua tahun terakhir kegiatan juga mulai melibatkan siswa SMPPI kelas 1, 2, dan 3.

Daniel mengatakan keterlibatan anak-anak sekolah mendapat respons positif. Kehadiran orang tua dan masyarakat sebagai pendukung juga membuat kegiatan menjadi ruang perjumpaan antargenerasi.

Tidak Hanya Bertanding, tetapi Baku Dapa

Pelaksanaan permainan tradisional tidak dipusatkan di satu lokasi. Sejumlah perlombaan digelar di tempat yang berbeda, sehingga memungkinkan peserta dari berbagai ranting dan masyarakat sekitar untuk saling bertemu.

Permainan tradisional yang telah dilaksanakan antara lain egrang batok, lari karung, lari balok, estafet, lompat karung, asien, serta sejumlah permainan lainnya yang menjadi bagian dari rangkaian Porcab.

Selain kompetisi, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat yang mungkin sudah jarang berinteraksi secara langsung.

“Daripada katong baku lawa di dunia digital, mendingan katong baku lawa secara langsung. Tatamuka itu yang paling sadap,” ujar Daniel.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari orang tua peserta yang hadir sebagai pendukung. Pertemuan tidak hanya melibatkan pemuda, tetapi juga orang tua dan masyarakat di lingkungan sekitar.

Peros menilai permainan tradisional memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan anak, khususnya dalam membangun karakter dan kemampuan bekerja sama.

Ia mencontohkan permainan asien yang membutuhkan kekompakan antarpemain. Menurutnya, ego pribadi dapat menghambat pencapaian tujuan bersama sehingga anak-anak secara tidak langsung belajar menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.

“Karakter yang dibangun dalam permainan tradisional itu membuat mereka bisa bekerja sama. Permainan tersebut merangkul anak-anak agar tidak lagi sendiri, tetapi dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan,” jelasnya.

Dengan demikian, permainan tradisional tidak hanya memberikan pengalaman bermain, tetapi juga menjadi media pembelajaran mengenai kerja sama, strategi, komunikasi, sportivitas, dan interaksi sosial.

Pelestarian permainan tradisional juga mulai dikembangkan melalui kolaborasi antara pendidikan formal dan nonformal.

Peros menyebut sejumlah sekolah telah memiliki peralatan permainan tradisional dan memanfaatkannya dalam kegiatan sekolah maupun ekstrakurikuler. Ia mencontohkan SMP Negeri 12 dan SMP Negeri 15 yang telah memiliki sejumlah alat permainan tradisional.

Menurutnya, kegiatan tersebut dapat membantu melatih kemampuan motorik kasar dan motorik halus anak. Pada saat yang sama, aktivitas tersebut turut memperkenalkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari budaya lokal.

Kolaborasi Lintas Generasi

Pelestarian permainan tradisional dinilai membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya organisasi kepemudaan, tetapi juga sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat.

Kegiatan serupa juga telah melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan yang lebih luas, termasuk anak-anak sekolah dan organisasi perangkat daerah (OPD).

Keterlibatan orang-orang dewasa yang pernah mengenal permainan tradisional pada masa lalu juga menjadi bagian penting. Permainan tradisional dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali ingatan dan pengalaman budaya yang mulai terlupakan.

Penulis : Hence Pietersz

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....