Becak Ambon di antara Tradisi dan Modernisasi, Akankah Tinggal Kenangan?

  • 29 Agt 2026 15:17 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Deretan becak yang terparkir di sejumlah sudut Kota Ambon menjadi pemandangan yang semakin jarang ditemui. Kendaraan roda tiga yang dahulu menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat kini perlahan tergerus perkembangan zaman, perubahan pola mobilitas warga, hingga kehadiran transportasi daring.

Becak disebut telah eksis di Kota Ambon sejak dekade 1980-an. Selama bertahun-tahun, moda transportasi tanpa mesin ini menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, terutama untuk perjalanan jarak dekat di kawasan perkotaan.

Namun, perkembangan kota juga menghadirkan persoalan baru. Pertumbuhan kendaraan dan kepadatan lalu lintas membuat keberadaan becak harus diatur. Pemerintah Kota Ambon bahkan menetapkan sejumlah ruas jalan utama sebagai kawasan tertib transportasi dan perparkiran.

Pada 2012, misalnya, Jalan A.Y. Patty ditetapkan sebagai salah satu kawasan tertib transportasi. Kendaraan roda tiga atau becak tidak lagi diperbolehkan melintas di ruas jalan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan ketertiban lalu lintas dan mengatasi persoalan kemacetan.

Penataan terhadap becak kemudian terus dilakukan. Pemerintah Kota Ambon juga pernah melakukan penertiban terhadap becak di kawasan Pasar Mardika karena aktivitas kendaraan di kawasan tersebut turut berkaitan dengan persoalan kemacetan dan ketertiban lalu lintas. Meski ruang geraknya semakin terbatas, becak tidak sepenuhnya hilang dari Kota Ambon.

Data Dinas Perhubungan Kota Ambon yang dikutip RRI menunjukkan jumlah becak mengalami penurunan cukup drastis. Pada 2018 tercatat sekitar 1.032 unit, sementara pada 2025 jumlahnya tersisa sekitar 323 unit. Penurunan tersebut dipengaruhi antara lain perubahan pilihan masyarakat terhadap moda transportasi serta persaingan dengan moda transportasi lainnya.

Dahulu, Pemerintah Kota Ambon juga menerapkan sistem warna untuk mengatur operasional becak. Becak dengan warna tertentu memiliki jadwal operasi pada hari yang berbeda. Namun, sistem tersebut kini tidak lagi diberlakukan karena jumlah becak telah berkurang secara signifikan. Menurut salah satu pengayuh becak, Edo mengatakan,

Terdesak Transportasi Modern

Tidak hanya kebijakan penataan lalu lintas yang mengubah wajah perbecakan di Ambon. Kehadiran transportasi daring juga membuat persaingan semakin berat.

Sejumlah pengayuh becak mengaku mengalami penurunan pendapatan karena sebagian masyarakat kini beralih menggunakan layanan transportasi daring yang dianggap lebih cepat dan praktis. Kondisi tersebut membuat profesi pengayuh becak semakin sulit dipertahankan.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Perhubungan menyebut penataan jalur dilakukan sebagai bagian dari manajemen transportasi. Becak juga diarahkan agar memiliki fungsi yang lebih besar di kawasan wisata dan heritage.

Kondisi ini memperlihatkan sebuah dilema. Di satu sisi, kota membutuhkan sistem transportasi yang tertib dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern. Namun di sisi lain, becak merupakan bagian dari sejarah perjalanan transportasi Kota Ambon yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Bukan Sekadar Kendaraan

Bagi sebagian warga, becak bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bagian dari kenangan Kota Ambon.

Suara roda yang bergerak perlahan di jalan, pengayuh yang mengantarkan penumpang dari satu tempat ke tempat lain, hingga bentuk becak yang khas menjadi bagian dari wajah kota pada masa lalu. Kini, pemandangan itu semakin jarang.

Becak masih dapat ditemukan di sejumlah kawasan, tetapi jumlahnya tidak lagi sebanyak dahulu. Data penurunan dari 1.032 unit pada 2018 menjadi sekitar 323 unit pada 2025 menjadi gambaran nyata bahwa moda transportasi tradisional ini sedang menghadapi perubahan besar.

Karena itu, pertanyaannya bukan semata-mata apakah becak masih mampu bertahan sebagai alat transportasi, tetapi bagaimana sejarah dan keberadaannya dapat tetap dipertahankan di tengah perubahan wajah Kota Ambon.

Jika tidak ada ruang baru bagi becak—baik sebagai transportasi, bagian dari wisata kota, maupun warisan budaya—bukan tidak mungkin suatu saat becak hanya akan tersisa dalam foto, cerita para orang tua, dan ingatan mereka yang pernah menggunakannya.

Becak Ambon mungkin sedang kehilangan jalannya. Namun, selama masih ada pengayuh yang mengayuh pedalnya, cerita tentang becak belum benar-benar berakhir

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....