Kurikulum Musik Tradisional Dukung Keberlanjutan Budaya Ambon

  • 29 Agt 2026 06:21 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) dinilai perlu diterapkan tidak hanya melalui aspek lingkungan dan ekonomi, tetapi juga melalui penguatan budaya dan identitas lokal.

Direktur Ambon Music Office (AMO), Ronny Loppies, mengatakan pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya, pengetahuan lokal, identitas, serta ekspresi seni masyarakat.

Menurut Loppies, Ambon memiliki modal budaya yang kuat melalui berbagai tradisi musik, seperti tifa, suling, jukulele, vokal tradisional, serta beragam musik dan lagu daerah yang hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, gagasan kurikulum muatan lokal wajib musik tradisional dinilai memiliki posisi penting. Kurikulum tersebut tidak hanya menjadi pembelajaran seni, tetapi juga menjadi instrumen untuk memastikan pengetahuan dan identitas budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Loppies menjelaskan, apabila pembelajaran musik tradisional belum berjalan secara normal, konsisten, dan sistematis di sekolah, terdapat kesenjangan antara status Ambon sebagai UNESCO Creative City of Music dengan praktik pendidikan sehari-hari.

“Status sebagai kota musik tidak cukup hanya ditunjukkan melalui festival, pertunjukan, industri kreatif, atau aktivitas komunitas musik. Status tersebut perlu memiliki fondasi melalui pendidikan musik yang berlangsung secara berkelanjutan di sekolah,” ujar Loppies.

Ia menilai, keterbatasan pembelajaran musik tradisional bagi generasi muda berpotensi menyebabkan terputusnya transmisi pengetahuan budaya. Pengetahuan mengenai teknik memainkan instrumen, lagu daerah, sejarah musik, nilai sosial, etika, cerita rakyat, bahasa lokal, hingga hubungan musik dengan kehidupan masyarakat dapat semakin berkurang.

Dalam perspektif ESD, menurut Ronny, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan administratif pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan budaya.

Lebih lanjut, ia mengatakan musik tradisional dapat menjadi media pembelajaran ESD karena mampu mengintegrasikan berbagai aspek pendidikan. Peserta didik tidak hanya belajar keterampilan bermusik, tetapi juga disiplin, kerja sama, identitas, sejarah, lingkungan, kreativitas, kewirausahaan, dan kehidupan sosial.

Di Ambon, pendekatan tersebut juga dapat dikembangkan melalui konsep Sound of Green (SoG), dengan menghubungkan musik, budaya dan lingkungan.

Peserta didik dapat diajak memahami hubungan antara hutan, bahan dasar pembuatan alat musik, bunyi alam, instrumen tradisional, hingga upaya konservasi lingkungan.

Pembelajaran juga dapat diarahkan pada pertanyaan mengenai sumber bahan alat musik tradisional, keberlanjutan bahan baku, hubungan hutan dengan kehidupan budaya masyarakat Ambon, serta pemanfaatan bunyi alam sebagai inspirasi musik.

Selain itu, teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan, mengembangkan, dan memperkenalkan musik tradisional kepada generasi muda secara lebih luas.

Ronny menegaskan, dengan pendekatan tersebut, musik tradisional tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Musik dapat menjadi media pembelajaran lintas disiplin yang menghubungkan pendidikan, budaya, lingkungan, kreativitas, dan pembangunan berkelanjutan.

Untuk itu, ia berharap perhatian dan dukungan dari dinas terkait dapat diperkuat agar implementasi kurikulum muatan lokal musik tradisional di Ambon dapat berjalan secara konsisten dan sistematis.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat identitas Ambon sebagai kota musik sekaligus memastikan kekayaan budaya dan pengetahuan musik tradisional tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....