Hari Steelpan Sedunia, Ambon Perkuat Ekosistem Musik Tradisional
- 11 Agt 2026 21:12 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Peringatan Hari Steelpan Sedunia setiap 11 Agustus menjadi momentum untuk melihat musik bukan hanya sebagai seni, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya, pendidikan, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan generasi muda. Semangat tersebut sejalan dengan pengembangan Ambon City of Music, yang menempatkan musik sebagai bagian dari pembangunan kota dan masyarakat.
Direktur Ambon Music Office (AMO) sekaligus Focal Point Ambon UNESCO City of Music, Ronny Loppies mengatakan, Ambon mengembangkan inovasi berbasis Sound of Green (SoG) dengan mengintegrasikan musik dan budaya dengan pendidikan, ekonomi kreatif, serta lingkungan.
Menurut Ronny, salah satu upaya mempertahankan identitas budaya dilakukan melalui penerapan kurikulum muatan lokal wajib musik tradisional di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Siswa diperkenalkan dengan sejumlah alat musik tradisional, di antaranya jukulele, totobuang, hadrat, Hawaiian, suling, dan tifa.
Program percontohan tersebut melibatkan 10 SD dan 10 SMP di Kota Ambon, termasuk melalui perekrutan tenaga pengajar musik serta pengadaan alat musik tradisional dengan melibatkan UMKM dan komunitas pembuat alat musik lokal.
“Mulai dari pendidikan, pelibatan generasi muda sudah sangat tepat dan berkelanjutan karena menghubungkan antara SDGs tujuan ke-11, ke-4 dan ke-8 serta Deklarasi Mondiacult 2022 di tingkat internasional,” ujar Ronny.
Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa musik dapat memberikan dampak lebih luas ketika dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem budaya dan pendidikan. Ronny menyebut sektor musik juga memiliki kontribusi terhadap perekonomian Kota Ambon. Ia menyampaikan, sumbangan musik terhadap PDRB Kota Ambon mencapai sekitar 49 persen.
Selain pendidikan dan ekonomi kreatif, Ambon City of Music juga menghubungkan musik dengan isu lingkungan melalui program Hutan Musik. Program ini diarahkan untuk mengkonservasi tanaman yang dapat menjadi bahan baku alat musik tradisional, seperti kayu titi, kayu sukun, dan bambu.
Pengukuran karbon dalam program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Pattimura, sebagai bagian dari upaya menghubungkan pelestarian budaya dengan isu perubahan iklim.
Ronny mengatakan, Maluku memiliki kekayaan musik tradisional yang sangat besar. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat dikembangkan hingga memiliki pengakuan global seperti steelpan dari Trinidad dan Tobago.
Ia menjelaskan, Ambon telah memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Creative City of Music sejak 2019 dan pada evaluasi tahap pertama 2025 mendapatkan predikat excellent. Pengembangan Ambon City of Music bertumpu pada lima pilar, yakni komunitas musik, infrastruktur musik, nilai sosial-budaya, industri musik, dan pendidikan musik.
Menurut Ronny, pengakuan sebagai kota musik bukan semata-mata persoalan mendapatkan status dari UNESCO, tetapi bagaimana menjaga ekosistem musik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ambon.
“Menjadi City of Music atau kota kreatif berbasis musik bukan persoalan pengakuan saja. Yang lebih penting adalah menjaga ekosistem musik yang sudah membudaya dalam kehidupan Ambon City of Music,” katanya.
Ia berharap ekosistem tersebut tidak hanya berdampak bagi Kota Ambon, tetapi juga menjadi penghela bagi pengembangan berbagai sektor di wilayah Maluku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....