Sansekerta Beta Dorong Anak Muda di tengah Tantangan Era Digital dan AI
- 11 Agt 2026 13:12 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Komunitas Sansekerta Beta terus mendorong kreativitas generasi muda melalui berbagai karya seni dan sastra di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Komunitas yang terbentuk sejak 2021 ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan bakat sekaligus menghasilkan karya yang tetap berpijak pada nilai sastra dan kreativitas.
Salah satu anggota Sansekerta Beta, Lilis, mengatakan komunitas tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi rumah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakat masing-masing.
Saat ini, Sansekerta Beta memiliki sekitar 61 anggota resmi yang berasal dari beberapa angkatan. Para anggota terbagi dalam sejumlah studio, antara lain studio tari, musik, puisi dan prosa, teater, serta desain.
“Kalau untuk skala internal, Sansekerta Beta menyiapkan wadah khusus untuk skill dan kemampuan. Ada studio tari, studio musik, studio puisi dan prosa, studio teater, dan studio desain,” kata Lilis dalam dialog budaya.
Menurutnya, keberadaan studio-studio tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Tidak hanya berkarya di lingkungan kampus, sejumlah karya Sansekerta Beta juga telah dibawa ke ruang yang lebih luas.
Salah satunya melalui film pendek “Indahnya Perbedaan” yang mendapat perhatian dari masyarakat di luar negeri. Selain itu, film “Sombar” berhasil meraih juara kedua dalam sebuah kompetisi tingkat nasional.
Sansekerta Beta juga pernah mengangkat isu kemanusiaan melalui pementasan bertema Palestina. Pementasan tersebut menggabungkan berbagai bidang seni yang ada di dalam komunitas, sekaligus melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak.
Lilis mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara Sansekerta Beta memperkenalkan seni dan sastra kepada masyarakat secara lebih luas.
“Kita mengajak masyarakat setempat. Anak-anak yang tadinya bermain, kita ajak untuk literasi dan mengambil peran dalam teater. Jadi, kita sama-sama belajar tentang apa itu seni,” ujarnya.
Perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda yang bergerak di bidang seni dan sastra.
Lilis menilai, AI seharusnya tidak dipandang sebagai pengganti kreativitas manusia. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan gagasan, tetapi ide dan kreativitas tetap harus berasal dari manusia.
“AI sebenarnya hanya membantu kita, memberikan ruang untuk menyuarakan ide kita dan membantu membuatnya lebih terstruktur,” katanya.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak pada budaya serba instan akibat kemudahan teknologi.
Menurutnya, kemudahan menggunakan AI justru harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas agar karya yang dihasilkan tetap memiliki identitas.
“Jangan hanya gambar yang murni dari AI. Upayakan ada kreativitas kita sendiri untuk menambahkan nuansa bahwa ide kita tidak mati. Otak kita tidak mati walaupun di era sekarang AI sangat cepat dan canggih,” ujar Lilis.
Manfaatkan Media Sosial untuk Promosi Karya
Di tengah perkembangan media sosial, Sansekerta Beta juga berupaya membangun identitas dan memperkenalkan karya mereka kepada publik melalui berbagai platform digital.
Komunitas ini aktif menggunakan Instagram, Facebook, YouTube hingga TikTok. Strategi promosi dilakukan dengan mengikuti perkembangan tren yang sedang digemari anak muda, namun tetap memasukkan unsur kreativitas dan sastra.
Lilis mengatakan, media sosial menjadi salah satu cara bagi komunitas-komunitas seni yang masih kecil untuk memperkenalkan keberadaan dan karya mereka.
Menurutnya, para pelaku seni tidak cukup hanya menghasilkan karya, tetapi juga perlu mampu mengemas dan mempromosikannya agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Kalau komunitas sekarang harus branding juga di media sosial. Kita mengikuti perkembangan zaman untuk menarik peminat anak muda, tetapi tetap menanamkan kecintaan terhadap sastra,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan AI dalam produksi konten juga tetap membutuhkan sentuhan manusia. Menurutnya, teknologi yang sama dapat menghasilkan karya berbeda karena setiap orang memiliki ide, sudut pandang, dan kreativitas yang berbeda.
Selain menghasilkan karya tari, film dan teater, Sansekerta Beta juga tengah menyiapkan karya sastra berupa antologi puisi.
Melalui Studio Puisi, komunitas tersebut berencana menghasilkan 100 puisi yang seluruhnya merupakan karya anggota Sansekerta Beta.
Lilis mengatakan, proses penyusunan antologi tersebut masih berlangsung karena karya sastra membutuhkan proses kreatif yang tidak dapat dilakukan secara instan.
“Rencananya kita membuat 100 puisi dari Sansekerta Beta. Namanya antologi puisi. Itu masih dalam proses, karena karya tidak bisa dibuat semata-mata satu menit langsung jadi. Itu membutuhkan ide dan inspirasi,” tuturnya.
Baginya, karya seni tidak semata-mata diukur dari seberapa ramai sebuah kegiatan atau seberapa besar perhatian publik. Karya memiliki nilai ketika mampu menyampaikan gagasan, menghadirkan pengalaman, serta mengajak orang untuk melihat dan merasakan sesuatu secara lebih mendalam.
Ke depan, Lilis berharap Sansekerta Beta dapat terus berkembang dan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu membawa karya anak muda Maluku ke tingkat nasional hingga internasional.
Ia juga berharap tersedia lebih banyak ruang bagi komunitas seni dan sastra di Maluku untuk berkolaborasi dan menampilkan karya.
“Harapan saya, komunitas-komunitas muda di Maluku bisa diberikan ruang lebih banyak, sehingga kita bisa dikenal bukan hanya secara lokal, tetapi nasional sampai internasional,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....