Tradisi Kurban Idul Adha di Negeri Hitu, Simbol Kebersamaan dan Pelestarian Budaya
- 28 Mei 2026 11:28 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon — Perayaan Idul Adha di negeri Hitu, Maluku Tengah berlangsung meriah dan penuh makna. Diawali dengan sholat bersama di pagi hari bertempat di Masjid Al-Jami'ah dalam suasana penuh khidmat. Selanjutnya tradisi pemotongan hewan kurban yang dilaksanakan pada sore hari.
Prosesi diawali dengan tahlilan di rumah Raja Negeri, kemudian hewan kurban diarak menuju masjid untuk selanjutnya disembelih. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol tawaf yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur negeri Hitu. Tahun ini perayaan Idul
Adha kembali dipadati masyarakat yang antusias menyaksikan seluruh prosesi penyembelihan kurban. Menariknya, saat ritual penyembelihan berlangsung, sejumlah warga tampak melempar uang ke area penyembelihan. Fadli Pelu selaku tokoh pemuda sekaligus akademisi kepada RRI menjelaskan, hal itu merupakan bentuk sumbangsih masyarakat sekaligus simbol harapan dan doa.
Masih menurut Fadli, biasanya masyarakat memiliki niat tertentu, seperti memohon dijauhkan dari bala, musibah, maupun penyakit. Filosofi yang berkembang di masyarakat, uang yang terkena darah kurban dipercaya membawa berkah,” jelasnya. Uang yang terkumpul nantinya akan dikelola pihak masjid untuk kepentingan umat.
Pelaksanaan ritual penyembelihan melibatkan seluruh unsur masyarakat dari dua negeri administratif yang menggunakan satu masjid bersama. Meski proses keluarnya hewan kurban dilakukan secara terpisah dari masing-masing negeri, seluruh prosesi bermuara di satu titik penyembelihan di area belakang masjid.
Momentum Idul Adha bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang mempererat kebersamaan warga negeri yang telah lama meninggalkan kampung halaman serta upaya melestarikan tradisi budaya.
“Tradisi ini sudah dilakukan dari para leluhur sampai sekarang. Setiap Idul Adha masyarakat selalu ramai dan antusias karena proses kurban ini merupakan bagian dari kebersamaan masyarakat negeri,” ujarnya. Dikatakan, hewan kurban yang disembelih berasal dari sumbangsih masyarakat sebagai bentuk keikhlasan dalam beribadah dan harapan memperoleh ridha Allah SWT.
Prosesi adat dipimpin langsung oleh Raja Negeri bersama maulana masjid, imam besar, khatib, serta para modin yang bertugas mengelola hewan kurban hingga pendistribusian daging kepada masyarakat yang berhak menerima. Fadli Pelu selaku tokoh pemuda masyarakat Hitu berharap tradisi tersebut terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Semoga kebersamaan, solidaritas, dan tradisi ini tetap lestari. Momentum Idul Adha ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa damai, aman, dan persatuan di tengah masyarakat,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....