Ribuan Warga Ramaikan Tradisi "Lawa Pipi" di Hila
- 28 Mei 2026 14:32 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon -:Tradisi Lawa Pipi atau Bawa Lari Kambing yang digelar masyarakat Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), kembali berlangsung meriah dan dipadati ribuan warga, Kamis, 28 Mei 2026.
Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap hari raya Iduladha ini menjadi daya tarik masyarakat, baik warga Hila maupun pengunjung dari daerah lain.
Sejak pagi hari, kawasan Negeri Hila sudah dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan jalannya tradisi yang sarat nilai budaya dan kebersamaan itu. Warga tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan yang berlangsung penuh kekeluargaan.
Kegiatan Lawa Pipi diawali dengan dilaksanakannya tahlilan oleh para pemuka agama, tokoh adat, kasisi masjid serta masyarakat setempat dan berlangsung di beranda Rumah Tua Ollong. Tahlil bertujuan untuk memanjatkan doa kepada arwah para leluhur sekaligus bentuk rasa syukur kepada sang Pencipta.

Usai tahlil, hewan qurban atau kambing yang paling besar dan sehat (kambing temal) yang diibaratkan sebagai pengganti Nabi Ismail AS akan dikeluarkan lebih dulu pada posisi terdepan dan diikuti hewan qurban lainnya.
Yang menjadi ciri khas dari tradisi Lawa Pipi, yakni hewan yang akan disembelih dipikul oleh para pemuda sambil berlari-lai kecil melambangkan rukun Sa'i mengelilingi kampung dan diikuti warga dengan suka cita.
Setelah prosesi Sa'i, dilanjutkan dengan mengitari Masjid Hasan Soleman Hila sebanyak tujuh kali putaran. Istilah ini disebut dengan nama Thawaf.
Hingga pada putaran terakhir, Imam bersama penghulu Masjid kemudian menyembelih "kambing temal" pada tempat yang sudah disediakan tepat di belakang masjid.
Ketika kambing temal disembelih, warga akan melempar uang logam maupun kertas ke arah kambing tersebut dengan niat untuk kebaikan serta menolak bala. Proses inilah yang diibaratkan dengan lempar Jumrah
Sementara uang yang dilempar, akan dikumpulkan untuk membeli rempah-rempah serta kebutuhan memasak huwan qurban yang akan dibagikan ke warga kurang mampu.
"Ini tradisi turun-temurun yang kita jaga sampai hari ini. Leluhur kita melihat setiap rukun haji yang dikerjakan di Mekkah, lalu dibuat dalam bentuk miniatur di tradisi Lawa Pipi ini," kata salah satu pengurus Masjid Hasan Soleman Hila, Abubakar Tatisina
Menurutnya, selain untuk menanamkan nilai-nilai spiritual, tradisi ini juga menjadi simbol persatuan warga serta momentum mempererat hubungan sosial antar masyarakat.
"Orang tua-tua kita terdahulu tau mana yang harus ditanamkan ke generasi mendatang. Lewat Lawa Pipi ini, kita diajarkan untuk mengenal rukun ibadah haji yang dilakukan di Tanah Suci Makkah," ucapnya
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Budaya Lawa Pipi, Kasim Assawala mengaku bersyukur karena tradisi budaya inu masih mendapat perhatian besar dari generasi muda. Ia menilai, keterlibatan anak muda menjadi tanda bahwa budaya lokal tetap hidup dan dicintai masyarakat.
"Jadu bukan sekadar kegiatan serimonial, tapi Lawa Pipi menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus tetap dijaga," ucap Assawala.
Selain prosesi adat, festival tradisi Lawa Pipi juga diramaikan dengan berbagai atraksi seni dan budaya, diantaranya lomba hadrat, samra, pidato dengan bahasa daerah dan lainnya.
Warga Hila sebelumnya telah melakukan ibadah sholat Iduladha pada Rabu kemarin dan proses penyembelihan hewan qurban baru digelar bersamaan dengan tradisi Lawa Pipi, Kamis hari ini. Sebanyak 35 ekor kambing dan 9 ekor sapi yang sembeli pada Iduladha tahun ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....