Sempe, Identitas Budaya Maluku yang Sarat Nilai Sejarah dan Kebersamaan

  • 29 Apr 2026 06:52 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Sempe, atau yang dikenal sebagai wadah tradisional berbahan tanah liat dari Negeri Ouw, Kabupaten Maluku Tengah, bukan sekadar alat makan papeda. Lebih dari itu, Sempe menyimpan nilai sejarah, filosofi, serta menjadi simbol identitas masyarakat Maluku yang terus diwariskan lintas generasi.

Dalam perbincangan pada program Siniar Keker, Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Pattimura, Dr. Sem Touw, S.Pd, M.Pd menjelaskan bahwa Sempe merupakan hasil kerajinan tangan berbahan tanah liat khas Negeri Ouw yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan gerabah dari daerah lain.

“Sempe dibuat dari tanah liat khusus yang hanya ditemukan di Ouw. Proses pembuatannya juga melalui tahapan tradisional, termasuk pembakaran dan pelapisan Damar yang memberikan kualitas serta daya tahan berbeda,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi material, Sempe juga memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Maluku, khususnya sebagai wadah penyajian Papeda, makanan pokok berbahan sagu. Penggunaan Sempe diyakini memberikan cita rasa khas sekaligus menjaga nilai tradisi dalam budaya makan bersama.

Sementara itu, penulis dan peneliti budaya Leonard Manuputty , S.AP., M.Si memaknai Sempe sebagai “Kompas Budaya” bagi masyarakat Ouw. Menurutnya, keberadaan Sempe mampu mengingatkan masyarakat akan asal-usul dan identitas mereka, di mana pun berada.

“Sempe bukan hanya wadah, tapi simbol jati diri. Ketika orang melihat Sempe, mereka akan ingat kampung halaman, ingat sejarah, dan hubungan kekeluargaan yang kuat,” ucapnya.

Ia menambahkan, nilai historis Sempe juga berkaitan dengan kisah leluhur tentang perpisahan gandong (adik-kakak) antara Negeri Ouw dan Negeri Seith. Dalam cerita tersebut, tanah liat yang menjadi bahan dasar Sempe merupakan bagian dari warisan yang dibawa sebagai bekal kehidupan di tempat baru.

Selain nilai sejarah, Sempe juga merepresentasikan nilai sosial yang tinggi. Tradisi makan papeda bersama dari satu wadah mencerminkan kebersamaan, saling berbagi, serta mempererat hubungan kekeluargaan dalam masyarakat Maluku.

Dalam perkembangannya, Sempe tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki peran dalam aktivitas ekonomi. Pada masa lalu, Sempe menjadi komoditas perdagangan yang didistribusikan ke berbagai wilayah di Maluku, bahkan hingga Pulau Seram dan sekitarnya.

Namun, di tengah modernisasi, keberadaan Sempe menghadapi tantangan. Perubahan gaya hidup serta berkurangnya minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional menjadi perhatian tersendiri.

Untuk itu, berbagai upaya pelestarian terus didorong, mulai dari edukasi, dokumentasi sejarah, hingga gagasan pengembangan festival budaya seperti makan Papeda menggunakan Sempe sebagai daya tarik wisata dan ekonomi kreatif.

“Pelestarian Sempe tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak. Perlu kolaborasi antara masyarakat, generasi muda, hingga pemerintah agar nilai budaya ini tetap hidup,” kata Leonard.

Dengan segala nilai yang dikandungnya, Sempe bukan sekadar warisan benda, melainkan cerminan identitas, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Maluku yang patut dijaga dan dilestarikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....