Bedah Buku Laut Bercerita, ketika Sastra Merawat Sejarah
- 20 Sep 2026 15:03 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon — Semesta Raya Sastra 1.0 menghadirkan bedah buku Laut Bercerita sebagai salah satu ruang untuk membahas bagaimana karya sastra dapat menjadi medium dalam merawat ingatan sejarah. Kegiatan ini mempertemukan penulis, pegiat sastra, akademisi, serta peserta dari kalangan mahasiswa, siswa, dan masyarakat umum yang dilaksanakan di Auditorium George de’Fretes RRI Ambon, Sabtu (19/9/2026).
Dalam diskusi tersebut, Dr. Falantino Eryk Latupapua menyoroti cara Laila S. Chudori mengemas kisah berlatar sejarah melalui pendekatan jurnalistik yang berpadu dengan kekuatan sastra.
“Laila ini menunjukkan cara khas seorang jurnalis bercerita. Bahasanya tidak menggunakan gaya yang keras atau gelap, tetapi sangat ringan, intim, dan yang paling penting adalah puitis,” ujar Falantino.
| Baca juga: Semesta Raya Sastra 1.0 Dorong Sastra Timur |
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat Laut Bercerita tidak sekadar menghadirkan fakta sejarah secara langsung, tetapi mengolahnya menjadi cerita yang dapat dinikmati pembaca sebagai sebuah karya sastra.
“Terlihat Laila berusaha agar karya sastra ini bisa menyampaikan cerita berlatar sejarah tanpa harus menjadi semacam history report atau laporan dokumenter,” katanya.
Sementara itu, Embong Salampessy melihat sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan masyarakat terhadap berbagai peristiwa masa lalu. Baginya, mengingat bukan hanya aktivitas mengenang, tetapi juga bagian dari upaya menghadapi kemungkinan terjadinya pelupaan terhadap sejarah dan pengalaman ketidakadilan.
“Mengingat adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap lupa dan ketidakadilan. Kolaborasi sastra, jurnalisme, dan kearifan lokal adalah resep ketahanan sosial di Maluku,” kata Embong.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa karya sastra berlatar sejarah dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman masa lalu dengan pembaca masa kini. Cerita yang dikemas dalam bentuk novel membuat peristiwa sejarah dapat diakses melalui pengalaman tokoh, konflik, dan narasi yang lebih dekat dengan pembaca.
Hal senada disampaikan salah satu peserta, Margareta Merpati Songot. Ia mengapresiasi cara Laut Bercerita mengemas fakta sejarah dalam bentuk novel sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca yang tidak mengalami langsung peristiwa yang diceritakan.
“Bagaimana Laila mengemas fakta sejarah dalam bentuk novel sehingga mudah untuk dibaca, mudah untuk diselami. Orang-orang yang tidak mengalami kejadian itu bisa tahu,” ujar Margareta.
Bedah buku Laut Bercerita dalam Semesta Raya Sastra 1.0 sekaligus menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi yang tidak mengalami langsung suatu peristiwa.
Melalui perpaduan antara fakta, pengalaman manusia, dan bahasa sastra, cerita sejarah tidak hanya hadir sebagai catatan masa lalu, tetapi dapat terus dibaca, direnungkan, dan diperbincangkan oleh generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....