Mahkota Menjadi Amanah: Helvi Nanda dan Mimpi Membawa Kaibobu Dikenal Dunia
- 30 Jul 2026 21:38 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Di antara hamparan laut biru Maluku dan rimbunnya hutan mangrove yang menjaga garis pantai, seorang perempuan muda memilih menjadikan mahkota yang dikenakannya sebagai awal dari sebuah perjalanan panjang. Bukan sekadar mengejar gelar, tetapi membawa cerita tentang kampung halaman yang selama ini masih sunyi dari sorotan.
Namanya Helvi Nanda Kahuparuw. Di usianya yang masih belia, ia dipercaya menyandang gelar Putri Pariwisata Maluku. Namun bagi Nanda, mahkota itu bukan simbol kemewahan. Ia melihatnya sebagai amanah untuk memperkenalkan wajah Maluku yang sesungguhnya—alam yang lestari, budaya yang hidup, dan masyarakat yang menjaga warisan leluhur dengan penuh kesetiaan.
Lahir di Ambon pada 24 Maret 2007, perjalanan Nanda menuju panggung nasional tidak dipenuhi kemudahan. Di balik penampilannya yang anggun, tersimpan kisah perjuangan yang dibangun dari kerja keras dan keyakinan. Ia melangkah dengan dukungan keluarga dan kerabat terdekat yang terus menguatkan ketika jalan terasa berat.
Sebelum dinobatkan sebagai Putri Pariwisata Maluku, Nanda lebih dulu menorehkan prestasi sebagai Runner Up Jujaro Kota Ambon 2025, Model Maluku Manggurebe 2025, hingga tampil dalam Fashion Show B'Gaya pada Festival Kota Ambon 2025. Setiap panggung menjadi ruang belajar, membentuk kepercayaan diri sekaligus memperluas mimpinya untuk mengangkat nama Maluku.
Namun ketika ditanya tentang cita-citanya, Nanda justru tidak banyak berbicara tentang dirinya sendiri. Ia memilih bercerita mengenai Kaibobu, negeri di Kabupaten Seram Bagian Barat yang menjadi akar keluarganya. Di sanalah ia menemukan alasan mengapa perjalanan ini harus terus dilanjutkan.
Kaibobu bukan sekadar sebuah negeri di pesisir. Bagi Nanda, tempat itu adalah ruang yang menyimpan harmoni antara manusia dan alam. Mangrove yang berdiri kokoh di tepian pantai menjadi saksi bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan lingkungan sejak dahulu.
Dari sanalah lahir gagasan advokasi bertajuk "The Silent Guardians".
Sebuah konsep yang memotret mangrove sebagai penjaga kehidupan pesisir, sekaligus simbol bahwa alam selalu melindungi manusia tanpa banyak suara.
Bersama mangrove, Nanda juga mengangkat Sasi Laut, tradisi adat Maluku yang mengatur pemanfaatan sumber daya laut secara bijaksana. Baginya, Sasi bukan sekadar aturan adat, melainkan filosofi hidup tentang menghormati alam agar tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya.
Advokasi yang ia bangun berdiri di atas empat pijakan utama: menjaga ekosistem pesisir dan laut, mengenalkan kembali nilai-nilai Sasi Laut kepada generasi muda, melestarikan budaya lokal sebagai identitas masyarakat, serta memberdayakan warga melalui pengembangan produk olahan laut, kerajinan tangan, dan promosi wisata berbasis media digital.
Di era ketika media sosial mampu menjangkau dunia hanya dalam hitungan detik, Nanda percaya generasi muda memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi penonton perkembangan zaman.
Menurutnya, setiap foto, video, dan cerita yang dibagikan tentang Maluku dapat menjadi jendela bagi orang lain untuk mengenal kekayaan budaya dan keindahan alam yang selama ini belum banyak diketahui.
"Generasi muda memiliki peran besar dalam memperkenalkan identitas Maluku. Media sosial menjadi ruang yang sangat kuat untuk menyuarakan budaya dan pariwisata kita agar semakin dikenal serta menjadi warisan yang terus dijaga," tuturnya.
Salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya terjadi ketika ia kembali menginjakkan kaki di Kaibobu pada 20 Juli 2026.
Meski lahir dan tumbuh di Ambon, sambutan masyarakat Kaibobu menghadirkan ikatan emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di tengah kehangatan warga, ia dianugerahi gelar adat Hena Poput Tahisane, sebuah penghormatan yang sekaligus menjadi pengingat bahwa dirinya kini memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Bagi Nanda, gelar adat itu bukan sekadar kehormatan, melainkan panggilan untuk terus memperjuangkan kampung halamannya agar dikenal lebih luas, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Ia berharap pembangunan sektor pariwisata di Maluku tidak berhenti pada promosi semata. Infrastruktur yang memadai, akses jalan menuju destinasi wisata, serta dukungan pemerintah terhadap masyarakat lokal menjadi fondasi penting agar potensi wisata dapat berkembang secara berkelanjutan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Helvi Nanda Kahuparuw memilih berjalan dengan membawa pesan yang sederhana namun bermakna: pariwisata bukan hanya tentang tempat-tempat indah untuk dikunjungi, melainkan tentang menjaga alam, merawat budaya, dan memastikan masyarakat setempat ikut tumbuh bersama.
Dari sebuah negeri kecil bernama Kaibobu, ia ingin membuktikan bahwa suara tentang pelestarian lingkungan dan budaya dapat bergema hingga panggung nasional. Sebab, bagi Nanda, mahkota bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk mengabdi kepada Maluku—tanah yang selalu memiliki cerita indah untuk dikenalkan kepada dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....