Revolusi Pembelajaran Diferensiasi, Ubah Siswa Pasif Menjadi Aktif
- 21 Mei 2026 18:16 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID,Ambon - Perubahan besar dalam dunia pendidikan sering kali dimulai dari satu kelas, satu guru, dan satu keberanian untuk mengubah cara pandang mengajar. Hal inilah yang dibuktikan oleh Jahra Lessy S.Pd, Guru Kelas VI di SDN 223 Maluku Tengah. Ia berhasil membalikkan keadaan di ruang kelasnya yang dulunya cenderung diam dan pasif, menjadi ruang belajar yang hidup, kolaboratif, dan penuh semangat baca, berkat penerapan metode pembelajaran diferensiasi yang terpusat pada kebutuhan siswa.
Jahra menceritakan kondisi awal kelasnya sebelum ia mengubah metode mengajar. Dulu, hampir seluruh siswa sangat pasif dalam menerima pelajaran, jarang ada interaksi atau kerja sama antarteman, dan yang paling memprihatinkan adalah minat baca yang masih sangat rendah.
Pembelajaran masih didominasi metode ceramah satu arah, di mana ia sebagai guru berbicara di depan, sementara siswa hanya duduk mendengarkan tanpa banyak terlibat aktif dalam proses berpikir.
Titik balik terjadi pada bulan September 2025, saat Jahra berkesempatan mengikuti kegiatan belajar bersama para fasilitator pendidikan di wilayah Kecamatan Salahutu. Di sanalah ia mendapatkan wawasan baru tentang konsep pembelajaran diferensiasi, sebuah metode yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan belajar masing-masing anak, bukan menyamakan semua anak dalam satu pola yang sama.
Sejak saat itu, Jahra bertekad menerapkan ilmu tersebut di kelasnya dan memulai langkah dengan melakukan asesmen mendalam untuk memetakan kemampuan dasar setiap muridnya.
"Setelah mengikuti kegiatan itu, saya mengubah cara mengajar saya dari metode ceramah menjadi pembelajaran diferensiasi yang terpusat pada murid. Saya mulai melakukan asesmen kebutuhan belajar, dan dari situ saya menemukan bahwa kemampuan membaca dan memahami isi bacaan murid Kelas VI saya terbagi menjadi dua level utama: level kelancaran membaca dan level pemahaman isi bacaan," jelas Jahra rinci saat menjadi pembicara dh Program Mozaik Indonesia yang disiarkan secara live oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Ambon, Rabu (20/5/2026).
Tema yang dipilih untuk program ini, "Bangkitnya Literasi di Maluku Tengah". Zahra mengungkapkan data asesmen yang ia catat pada bulan Maret 2026, terdapat 4 siswa berada di level kelancaran membaca, sementara 14 siswa lainnya sudah berada di level pemahaman.
Sebulan kemudian, pada bulan April, terjadi pergerakan positif, jumlah siswa di level kelancaran membaca menurun menjadi 3 orang, yang berarti mereka sudah berkembang naik ke level selanjutnya, sementara jumlah siswa di level pemahaman meningkat menjadi 15 orang. Pergerakan angka kecil ini menjadi kemenangan besar bagi Jahra, karena menandakan adanya kemajuan nyata.
Untuk menjembatani kebutuhan kedua kelompok berkemampuan ini, Jahra kemudian berinovasi menciptakan media pembelajaran khusus yang ia beri nama Debbook. Ini adalah buku besar buatan sendiri yang dirancang khusus agar ia selaku guru dapat menggali pertanyaan-pertanyaan tersirat di balik materi bacaan, serta melatih siswa untuk menjawab dengan penalaran yang mendalam.
Media ini terbukti ampuh untuk melatih pola pikir kritis anak-anak, membuat mereka tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengerti, merenungkan, dan mampu mengemukakan pendapat.
Kini, wajah kelas VI berubah total. Siswa yang dulunya pasif kini antusias mengikuti pembelajaran, kolaborasi antar teman semakin kuat, dan minat baca tumbuh subur. Bagi Jahra, perubahan ini adalah bukti bahwa kunci utama bangkitnya literasi di Maluku Tengah ada di tangan para guru, selama mereka mau berinovasi, memahami muridnya, dan berani keluar dari cara-cara lama demi kemajuan anak bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....