Lawan Resistensi Perubahan, SDN 216 Maluku Tengah Ubah Literasi
- 21 Mei 2026 18:17 WIB
- Ambon
RRI.CO ID,Ambon - Perjalanan panjang delapan tahun memimpin SDN 216 Maluku Tengah membawa Surasmat Saleh,S.Pd, pada satu kesimpulan penting kemajuan pendidikan tidak akan pernah terjadi jika kita bertahan di zona nyaman. Di bawah kepemimpinannya, sekolah ini kini menjadi salah satu contoh keberhasilan transformasi pendidikan yang luar biasa, di mana capaian literasi siswa melonjak drastis dari kategori sedang menjadi 100 persen masuk dalam kategori baik selama dua tahun terakhir.
Surasmat menceritakan, awal mula perjalanan tersebut berangkat dari hasil analisis mendalam terhadap Raport Pendidikan siswa beberapa tahun lalu. Saat itu, indikator literasi di sekolahnya baru menyentuh angka 62 persen dan masih dikategorikan dalam tingkat penguasaan sedang. Kondisi ini mendorongnya untuk mencari terobosan baru, hingga kemudian sekolahnya mendapatkan kesempatan emas untuk ikut serta dalam kegiatan Pelatihan Pelatih atau Training of Trainers (TOT) Inovasi. Program ini membuka wawasan baru, di mana ia dan rekan-rekan pendidik dilatih untuk beralih peran, bukan lagi sekadar pengajar, melainkan menjadi fasilitator yang andal dalam pembelajaran.
"Setelah kami mendapatkan keikutsertaan dalam kegiatan TOT Inovasi, kami diberikan kesempatan untuk melatih diri menjadi fasilitator, memfasilitasi guru dan memberikan kesempatan kepada rekan guru untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. Ini menjadi titik balik yang sangat baik bagi perkembangan sekolah kami," kenang Surasmat saat menjadi pembicara dalam dialog mendalam yang digelar dalam program Mozaik Indonesia yang disiarkan secara live oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Ambon, Rabu (20/5/2026),
Namun, Surasmat mengakui bahwa mengubah budaya mengajar bukanlah perkara mudah. Ia menghadapi tiga tantangan terbesar yang menjadi penghambat utama perubahan. Tantangan pertama adalah resistensi terhadap perubahan itu sendiri. Selama bertahun-tahun, metode konvensional di mana guru lebih banyak berceramah dan menjadi sumber informasi utama, sementara siswa hanya mendengarkan dan kurang aktif bergerak atau berdiskusi, sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Banyak guru merasa nyaman dengan cara lama, bahkan timbul kekhawatiran bahwa jika metode diubah, pembelajaran akan gagal atau target kurikulum tidak akan tercapai.
Kendala kedua terletak pada kompetensi. Banyak guru yang mengaku belum memiliki kemampuan cukup untuk beralih menjadi fasilitator yang baik, yang mampu mengarahkan dan memandu siswa menemukan pengetahuannya sendiri. Tantangan ketiga adalah manajemen waktu. Pembelajaran interaktif dan berbasis aktivitas memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan sekadar ceramah, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pendidik bahwa materi pelajaran tidak akan selesai sesuai jadwal.
Meski berat, Surasmat dan timnya tidak berhenti di situ. Ia terus mendorong peningkatan kapasitas, pendampingan intensif, dan pembiasaan baru di lingkungan sekolah. Hasilnya, kini tercatat jelas dalam data Raport Pendidikan: capaian literasi yang dulunya 62 persen dan berada di kategori sedang, kini berhasil ditingkatkan hingga mencapai 100 persen kategori baik dalam dua tahun berturut-turut. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa menaklukkan rasa takut dan kebiasaan lama adalah harga mutlak yang harus dibayar demi masa depan anak-anak didik yang lebih cerdas dan berdaya saing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....