Aksi GMKI di Kantor Gubernur Maluku Ricuh: Kembalikan Gunung Botak ke Warga Adat
- 18 Mei 2026 15:39 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia atau GMKI Ambon di depan Kantor Gubernur Maluku, Senin (18/5/2026), berakhir ricuh setelah massa terlibat saling dorong dengan aparat keamanan yang berjaga di lokasi.
Kericuhan pecah ketika massa aksi mencoba menerobos masuk ke area Kantor Gubernur untuk menemui langsung Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath.
Aparat gabungan dari Polresta Ambon, Polsek Sirimau, serta Satpol PP yang berjaga di pintu masuk kantor gubernur langsung membentuk barikade untuk menahan massa. Situasi sempat memanas akibat aksi saling dorong antara demonstran dan petugas keamanan.
Ketegangan dipicu rasa kecewa mahasiswa setelah kurang lebih empat jam menyampaikan aspirasi secara bergantian di depan kantor gubernur, namun tidak satu pun pejabat Pemerintah Provinsi Maluku menemui mereka secara langsung.
Dalam aksinya, GMKI Ambon menuntut agar pengelolaan tambang emas Gunung Botak di Pulau Buru dikembalikan kepada masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat. Massa menilai kebijakan penutupan tambang yang dilakukan pemerintah tidak berpihak kepada masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan tradisional.
“Kembalikan pengelolaan tambang emas Gunung Botak di Pulau Buru kepada pemilik hak ulayatnya, yakni warga adat di Pulau Buru,” teriak salah satu orator di hadapan massa aksi dan aparat keamanan.
Selain menyampaikan tuntutan, mahasiswa juga membawa sejumlah poster bernada kritik tajam terhadap pemerintah daerah. Tulisan seperti “transparansi bukan investasi”, “Pemerintah enak rakyat sengsara”, hingga “menolak diam di tengah ketololan pemerintah” terlihat dibentangkan di sepanjang pagar kantor gubernur.
Mahasiswa menilai penutupan tambang tanpa solusi konkret hanya memperburuk kondisi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan tambang. Mereka menuding pemerintah gagal menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
“Kami sudah empat jam di sini, tapi tidak ada itikad baik dari pemerintah untuk menemui kami. Jangan tutup mata terhadap penderitaan rakyat,” tegas salah satu orator lainnya.
Aksi yang semula berlangsung damai itu berubah tegang ketika massa mencoba mendesak masuk sebagai bentuk protes atas sikap pemerintah yang dinilai mengabaikan aspirasi mereka.
Sejumlah mahasiswa terlihat terlibat adu dorong dengan aparat sebelum akhirnya situasi berhasil dikendalikan. Hingga aksi berakhir, tidak ada perwakilan resmi Pemerintah Provinsi Maluku yang menemui massa demonstran.
GMKI Ambon juga mengancam akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar bersama elemen mahasiswa lainnya apabila tuntutan mereka tidak segera direspons pemerintah.
Sementara itu, aparat keamanan masih disiagakan di sekitar Kantor Gubernur Maluku untuk mengantisipasi potensi aksi susulan maupun gangguan keamanan lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....