Makan Cerdas Seimbangkan Kenikmatan dan Kesehatan Tubuh
- 12 Mei 2026 14:48 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pengamat Ekonomi Kreatif Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, menilai masyarakat modern perlu menyeimbangkan pola “makan dengan lidah” dan “makan dengan otak” agar kesehatan tetap terjaga tanpa kehilangan kenikmatan kuliner. Menurut Waluyo, selama ini banyak orang memilih makanan berdasarkan rasa, aroma, dan kenikmatan sesaat dibanding memperhatikan kandungan gizi maupun dampaknya bagi kesehatan jangka panjang.
“Banyak orang makan bukan karena lapar, tetapi karena ingin. Minum bukan karena haus, tetapi karena rasa,” ujar Harry Waluyo. Ia mengatakan, perkembangan makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak membuat masyarakat semakin mudah tergoda mengonsumsi makanan secara berlebihan.
Meski demikian, Harry menegaskan bahwa rasa bukan sesuatu yang harus dihindari karena kuliner juga merupakan bagian penting dari budaya dan kebahagiaan hidup manusia. “Masalahnya bukan pada rasa, tetapi ketika rasa menjadi satu-satunya pertimbangan,” ucapnya.
Waluyo menjelaskan, konsep “makan dengan otak” mengajarkan masyarakat untuk lebih sadar terhadap jumlah kalori, kadar gula, protein, serat, hingga kualitas bahan pangan yang dikonsumsi setiap hari.
| Baca juga: Cara Alami Atasi Mual, Aman dan Mudah |
Ia mencontohkan sejumlah negara yang berhasil menjaga keseimbangan antara rasa dan kesehatan, seperti Jepang dengan konsep Hara Hachi Bu atau makan hingga 80 persen kenyang, serta negara-negara Mediterania yang mengutamakan makanan alami dan pola makan seimbang.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar membangun budaya makan sehat karena kaya akan makanan tradisional berbahan alami seperti pecel, gado-gado, papeda, ikan bakar, sayur asem, dan jamu tradisional. “Tantangan Indonesia bukan kekurangan makanan sehat, tetapi bagaimana menjadikan makanan sehat tetap menarik bagi lidah modern,” kata Harry Waluyo.
Ia menambahkan, pendekatan terbaik adalah menikmati makanan secara seimbang dengan tetap memperhatikan kebutuhan tubuh dan kesehatan jangka panjang. “Lidah memberi kenikmatan, tetapi otak menjaga kehidupan,” ujar Harry Waluyo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....