Autofagi saat Puasa, Benarkah Bikin Tubuh Lebih Sehat?

  • 25 Feb 2026 08:38 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Puasa tak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan haus. Dalam dunia kesehatan, puasa juga kerap dikaitkan dengan proses alami tubuh bernama autofagi. Mekanisme ini menjadi sorotan karena disebut berperan dalam penuaan sehat hingga membantu mencegah berbagai penyakit.

Autofagi merupakan proses “bersih-bersih” sel secara alami. Sel sebagai unit dasar penyusun organ dan jaringan tubuh, seiring waktu dapat mengalami kerusakan. Komponen yang rusak ini bisa menumpuk layaknya sampah dan mengganggu fungsi sel jika tidak dibersihkan.

Mengutip penjelasan dari Cleveland Clinic, autofagi memungkinkan sel membungkus bagian yang rusak, lalu mengirimkannya ke bagian khusus untuk dihancurkan dan didaur ulang. Dengan cara ini, tubuh memiliki sistem pengelolaan limbah internal agar sel tetap bekerja secara optimal.

Sementara itu, dilansir dari Verywell Health, autofagi memiliki sejumlah manfaat, baik di dalam maupun di luar sel. Di antaranya membantu mengurangi stres oksidatif, menjaga stabilitas DNA dan gen, mencegah penuaan dini pada sel, meningkatkan konversi nutrisi menjadi energi, hingga memperkuat sistem kekebalan tubuh. Proses ini juga dikaitkan dengan pencegahan pembentukan tumor, pengurangan peradangan, serta peningkatan fungsi saraf di otak.

Autofagi sebenarnya berlangsung secara alami setiap saat. Namun, proses ini dapat meningkat ketika tubuh berada dalam kondisi stres ringan, misalnya saat kekurangan asupan nutrisi.

Menurut Healthline, saat seseorang berpuasa, kadar gula darah dan insulin akan menurun. Tubuh kemudian beralih ke mode bertahan hidup dengan memanfaatkan kembali komponen sel yang rusak sebagai sumber energi dan bahan perbaikan. Kondisi inilah yang memicu peningkatan autofagi.

Sejumlah penelitian pada hewan menunjukkan bahwa autofagi bisa mulai meningkat setelah 24 hingga 48 jam puasa. Namun pada manusia, durasi pastinya masih belum dapat dipastikan karena penelitian masih terbatas. Selain puasa, pembatasan kalori, diet rendah karbohidrat seperti diet ketogenik, serta olahraga dengan intensitas tertentu juga disebut dapat merangsang proses ini.

Autofagi berfungsi sebagai kontrol kualitas sel. Dengan membersihkan bagian yang rusak, sel dapat bekerja lebih efisien dan menjaga keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Tak heran jika proses ini kerap dikaitkan dengan penuaan yang lebih sehat.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa autofagi bukanlah solusi ajaib. Puasa atau perubahan pola makan ekstrem tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, penderita diabetes, maupun mereka yang memiliki penyakit kronis.

Pada akhirnya, autofagi adalah mekanisme adaptasi alami tubuh untuk memperbaiki diri. Saat berpuasa, tubuh ternyata tidak hanya menahan lapar, tetapi juga bekerja diam-diam menjaga kualitas sel dan kesehatan secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....