BMKG: Potensi Karhutla di Maluku Meningkat di Empat Wilayah Ini

  • 18 Sep 2026 09:58 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon merilis peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk wilayah Provinsi Maluku. Dalam dokumen bernomor ACWM-PTM-18 yang diterbitkan hari ini, sejumlah wilayah terpantau masuk kategori waspada hingga sangat mudah terbakar.

Berdasarkan indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang mengukur tingkat kekeringan bahan mudah terbakar di lapisan atas tanah, secara umum kondisi Maluku hari ini berada pada rentang Aman hingga Sangat Mudah terbakar. Namun, peta indeks menunjukkan area berwarna merah hingga hitam yang menandakan kategori Sangat Mudah (Very High), terlihat mendominasi di beberapa titik, terutama di Kabupaten Buru, Buru Selatan, Maluku Tengah, dan sebagian Maluku Tenggara.

Yang perlu menjadi perhatian serius, indeks Duff Moisture Code (DMC) yang mengukur kekeringan lapisan tanah menengah (5-10 cm) menunjukkan kategori Tidak Mudah hingga Sangat Mudah. Artinya, bukan hanya dedaunan kering di permukaan, tetapi lapisan tanah organik dan ranting-ranting di bawahnya juga sudah mengering. Ini menjadi bahan bakar potensial yang bisa memicu api lebih besar.

Sementara itu, dari sisi penyebaran api, Initial Spread Index (ISI) berada pada kategori Sedang hingga Sangat Tinggi. Angin yang bertiup kencang menjadi faktor utama. BMKG mencatat, nilai ISI bisa meningkat dua kali lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 km/jam. Kondisi ini sangat berbahaya terutama di area padang rumput atau alang-alang, di mana api bisa dengan cepat membentuk "head fire" atau pola kepala api yang sulit dikendalikan.

Puncaknya, Fire Weather Index (FWI) yang menggambarkan intensitas api jika terjadi kebakaran, juga berada pada kategori Sedang hingga Sangat Tinggi. Kombinasi antara bahan bakar yang kering dan angin kencang membuat potensi karhutla di Maluku hari ini tidak bisa dianggap remeh.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan gambut, untuk tidak melakukan aktivitas yang memicu percikan api. "Disarankan untuk berkoordinasi dengan Dinas dan Lembaga terkait setempat untuk pemanfaatan lebih lanjut dari data/informasi yang disediakan," tulis BMKG dalam dokumen tersebut. (*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....