Gempala Maluku Dorong Generasi Muda Peduli Alam: "Langkah Kecil, Jejaknya Besar"
- 12 Agt 2026 13:21 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar gerakan yang muncul pada momentum tertentu. Pesan tersebut menjadi semangat yang terus dibangun Generasi Pecinta Alam (Gempala) Maluku melalui berbagai kegiatan pelestarian lingkungan. Gempala Maluku merupakan komunitas pecinta alam yang berdiri sejak 2008. Setelah sempat mengalami kevakuman selama hampir 11 tahun, organisasi tersebut kembali aktif dan kini diisi oleh generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap alam dan kegiatan luar ruang.
Ketua Umum Gempala Maluku, Indah, menjelaskan bahwa identitas organisasi tersebut memiliki sejumlah filosofi yang berkaitan dengan nilai persaudaraan, arah perjuangan, dan kehidupan. Menurutnya, lambang Gempala didominasi warna biru yang menggambarkan ketenangan dan sikap netral. Lingkaran melambangkan persaudaraan, kompas menunjukkan arah dan tujuan, sementara gunung serta matahari menggambarkan kehidupan.
“Kalau bicara Gempala, kita bicara filosofinya dulu. Di lambang Gempala ada warna biru yang artinya kita tenang dan netral. Ada lingkaran yang berarti persaudaraan, kompas menunjukkan arah tujuan, kemudian gunung dan matahari sebagai sumber kehidupan,” jelas Indah, saat berbincang di acara Paparisa Komunitas Pro 4 pagi tadi.
Gempala Maluku pertama kali dibentuk pada 2008 oleh para senior organisasi. Namun, dalam perjalanannya, komunitas tersebut sempat mengalami kevakuman selama hampir 11 tahun.
Indah menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika organisasi serta kesibukan para senior dengan kehidupan dan tanggung jawab masing-masing.
Setelah lama vakum, Gempala kemudian kembali diaktifkan oleh generasi berikutnya. Indah bersama sejumlah anggota menjadi bagian dari angkatan yang kembali menghidupkan organisasi tersebut.
Ia mengaku sebelumnya telah aktif melakukan kegiatan luar ruang bersama sejumlah komunitas pecinta alam lainnya sejak 2018. Keinginan untuk bergabung dengan komunitas pecinta alam akhirnya membawanya kembali ke Gempala Maluku. Ketika komunitas lain yang hendak diikutinya sudah penuh kuota pendaftaran, para senior Gempala yang mengetahui adanya minat tersebut kemudian membuka kembali pendaftaran Gempala.
Indah menjadi salah satu orang pertama yang bergabung dalam proses pengaktifan kembali organisasi tersebut. Menurut Indah, menjadi pecinta alam bukan hanya soal bergabung dengan sebuah organisasi. Kepedulian terhadap alam seharusnya lahir dari keputusan dan kesadaran pribadi. Ia menilai, anggota pecinta alam memiliki tanggung jawab lebih untuk memahami dampak dari setiap tindakan manusia terhadap lingkungan. Gempala Maluku pun membawa slogan:
“Langkah kecil hari ini, jejak besar bagi bumi.” Slogan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Sebagai komunitas pecinta alam, Gempala Maluku tidak hanya melakukan kegiatan luar ruang, tetapi juga mulai terlibat dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Pada akhir 2024 hingga 2025, Indah menyebut dirinya pernah terlibat dalam kegiatan penanaman 1.000 pohon mangrove bersama komunitas anak pesisir.
Gempala Maluku juga tengah mempersiapkan kegiatan penanaman kembali di kawasan pesisir. Dalam kegiatan tersebut, Gempala berencana bekerja sama dengan komunitas pecinta alam di wilayah setempat, termasuk Paususa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Gempala untuk memperluas gerakan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya kawasan pesisir dan laut.
Indah mengakui bahwa geliat atau euforia komunitas pecinta alam saat ini tidak seperti sebelumnya. Menurutnya, aktivitas pecinta alam terkadang baru terlihat ketika terdapat kegiatan besar seperti jambore. Karena itu, keberadaan kembali Gempala Maluku diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk menghidupkan kembali semangat generasi muda terhadap kegiatan kepencintaalaman dan pelestarian lingkungan. Saat ini, sejumlah anggota Gempala Maluku juga mengikuti Jambore Pecinta Alam di Tual yang dijadwalkan berlangsung mulai 15 Agustus dan puncak kegiatannya bertepatan dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Menurut Indah, kegiatan jambore tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan komunitas masing-masing.
“Kalau menurut saya, jambore itu seperti expo. Ada pengenalan dari komunitas masing-masing, kemudian ada kegiatan outdoor dan challenge dari setiap perwakilan,” jelasnya. Menjaga Alam Berarti Menjaga Kehidupan
Sementara itu, Sekretaris Gempala Maluku, Zevi Zevani, mengatakan tema “Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan” memiliki makna penting bagi komunitas tersebut. Menurutnya, kehidupan masyarakat saat ini sangat bergantung pada sumber daya alam. Mulai dari pangan hingga air yang dikonsumsi sehari-hari, semuanya berkaitan erat dengan keberadaan lingkungan yang sehat.
Karena itu, menjaga alam bukan hanya persoalan mempertahankan hutan, laut, atau kawasan pesisir, tetapi juga menjaga keberlangsungan kehidupan manusia.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi Maluku yang memiliki kekayaan alam dan kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan laut serta sumber daya alam lainnya. Bagi Gempala Maluku, kondisi alam yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan sesuatu yang harus dijaga agar tetap dapat dirasakan oleh generasi berikutnya.
Gempala Maluku memandang bahwa upaya menjaga lingkungan tidak harus selalu dimulai dari kegiatan besar. Kesadaran dapat dibangun melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut sejalan dengan slogan organisasi, “Langkah kecil hari ini, jejak besar bagi bumi.” Melalui kegiatan penanaman mangrove, aktivitas luar ruang, edukasi lingkungan, hingga keterlibatan dalam berbagai kegiatan kepencintaalaman, Gempala Maluku berupaya mengajak generasi muda untuk tidak hanya menikmati alam, tetapi juga memahami tanggung jawab dalam menjaganya.
Bagi komunitas ini, alam bukan sekadar tempat untuk melakukan aktivitas petualangan. Alam merupakan bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama.
Sebab, ketika lingkungan yang menjadi sumber kehidupan terus dijaga sejak sekarang, maka peluang generasi mendatang untuk menikmati bumi yang sehat juga akan semakin besar.
Penulis : Hentje Pietersz
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....