Inilah Sejarah Alun-alun Kidul Yogyakarta

  • 25 Jun 2026 10:21 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Alun-alun Selatan juga dikenal dengan nama Alun-Alun Pengkeran (Alun-Alun Belakang). Letaknya masih berada di dalam benteng keraton, di tengahnya ditanam dua buah pohon beringin. Beringin ini dinamakan supit urang dan diberi pagar keliling sehingga dikenal sebagai Ringin Kurung. Pagar yang mengelilingi dua batang pohon ini diberi ornamen berupa bulatan dan bentuk-bentuk busur. Sedang di bagian pinggirnya terdapat pohon pakel (mangga) dan pohon kweni, sebagai perlambang kedewasaan (akil baligh) dan keberanian (wani).

Dikutip dari laman kratonjogja.id, Alun-Alun Selatan yang berukuran 150 x 150 meter dikelilingi pagar setinggi 2 meter dan lima bukaan sebagai jalan keluar masuk. Kelima jalan tersebut adalah Jalan Langenastran Kidul, Jalan Langenastran Lor, Jalan Ngadisuryan, Jalan Patehan Lor, dan Jalan Gading. Jalan-jalan ini melambangkan kelima indera manusia. Pada sisi sebelah barat, dekat Jalan Ngadisuryan, terdapat kandang gajah milik keraton.

Permukaan alun-alun ditutup dengan pasir. Hamparan pasir tersebut adalah perlambang bahwa indera kita masih labil dan mudah berubah serta tidak teratur, laksana pasir. Inilah yang terjadi pada manusia saat memasuki masa-masa akil balig, yang dilambangkan dengan wujud pertemuan pemuda dan pemudi dalam bentuk beringin tadi.

Alun-Alun Kidul dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada masa pemerintahannya tahun 1755 -1792 M. Dahulu alun-alun dikelilingi pagar tembok batu bata setinggi 2,20 m tebal pagar tembok 30 cm, namun sudah banyak yang runtuh dan rusak. Sedangkan pagar tembok yang dapat disaksikan sekarang adalah pagar tembok baru, yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ke VII pada masa pemerintahannya tahun 1877 -1921 M. Saat ini antara tembok dengan tanah lapang terdapat jalan aspal yang melingkar.

Dari zaman dulu jalan keluar masuk Alun-alun Selatan yang berjumlah 7 buah. Sampai saat ini letaknya juga masih sama. Di pagar sebelah selatan ada jalan masuk masuk ke arah utara selatan, disebut Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing. Sementara di pagar tembok sebelah timur ada jalan keluar ke arah timur disebut Jalan Langenarjan di sebelah utara dan Jalan Langenastran di sebelah selatan.

kemudian ke arah utara sebelah barat dan timur Siti Hinggil ada Jalan Pamengkang, dua-duanya menuju ke arah Kagungan Dalem Kamandhungan Kidul. Di bagian barat juga ada dua jalan keluar yaitu Jalan Ngadisuryan di sebelah utara dan Jalan Patehan di sebelah selatan. Di antara kedua jalan tadi ada kandang gajah dengan tiga buah tiang untuk mengikat gajah. Pada zaman dulu gajah milik raja ada tiga ekor.

Di sebelah utara Alkid terdapat Sasana Hinggil Dwi Abad. Ini adalah bangunan bersejarah dan cagar budaya. Sementara di sisi barat laut terdapat Dalem Prabukusuman. Ini adalah tempat tinggal GBPH Prabukusumo, salah satu putra dari Sri Sultan HB IX.

Di tengah-tengah Alkid juga terdapat pohon beringin kembar yang disebut supit urang. Masing-masing pohon beringin ini diberi pagar berupa jeruji sebagai gambaran busur dan anak panah. Konon Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk gladhen (berlatih) bagi para prajurit keraton. Prajurit Keraton menggelar gladhen menjelang upacara adat tradisi budaya Garebeg, yang setiap tahun diadakan tiga kali, yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Sawal, dan Garebeg Besar. Menurut cerita zaman dulu Alkid juga digunakan untuk berlatih olah keprajuritan bagi para prajurit keraton.

Di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, di Alun-Alun Selatan diadakan pertandingan panahan, adu harimau melawan kerbau, serta hiburan berupa prajurit rampogan menangkap harimau. Dahulu sampai dengan sekitar tahun 1980 M, Alun-Alun Selatan jadi tempat yang sepi, kecuali hari-hari tertentu ada kegiatan seperti latihan para prajurit, pisowanan, mubeng beteng, atau latihan panahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....