Dikunjungi 5.000 Wisatawan Sebulan, Museum Soeharto Jadi Wisata Edukasi Favorit

  • 26 Apr 2026 23:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto yang terletak di Dusun Kemusuk Lor, Kelurahan Argo Mulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, menjadi salah satu destinasi wisata edukasi sejarah. Dalam satu bulan terakhir, museum ini telah menerima kunjungan yang didominasi dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA sebanyak 5 ribu orang per bulannya.

Kepala Museum Memorial Jenderal HM Soeharto, Gatot Nugroho, mengatakan bahwa tingginya kunjungan tidak terlepas dari konsep edukasi yang menekankan pendekatan emosional kepada penggunjung. Ia mengatakan dari 5 ribu pengunjung yang mendatangi museum soeharto 70 persen diantaranya dari kalangan pelajar, dan 30 persen lainnya berasal dari umum atau bukan rombongan dari pelajar.

“Jadi suatu edukasi itu akan lebih mengenal ketika di awal penjelasan tentang ketokohan museum ini dimulai dengan edukasi tentang nasionalisme, tentang wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Kami selalu melakukan itu supaya anak anak bangsa itu semakin bangga menjadi anak Indonesia dan nantinya akan siap menjadi generasi yang membangun Indonesia,” kata Gatot

Dibangun di atas lahan milik keluarga soeharto seluas 3.620 meter persegi, museum ini didirikan pada tahun 2013 oleh Probosutejo sebagai bentuk dedikasi dari seorang adik untuk sang kakak karena pernah berjuang untuk bangsa, negara dan membangun Indonesia. Di depan museum pengunjung akan disambut dengan patung besar Jenderal Besar HM. Soeharto karya Edhi Sunarso bersebelahan dengan prasasti peresmian museum.

Di dalam museum ini terdapat berbagai bangunan dengan kegunaan yang berbeda, seperti Joglo di area museum difungsikan sebagai tempat untuk beristirahat serta menonton tayangan perjalanan hidup Soeharto. Kemudian di Gedung Atmosudiro menampilkan Selasar Ruang karya berbentuk gulungan film, Selasar Serangan Umum 1 Maret, selasar Trikora, Selesar Kesaktian Pancasila serta Selasar Masa Pembangunan.

Dan ada Gedung Notosudiro yang menjadi persinggahan untuk para tamu dan keluarga. Di sisi timur Gedung Notosudiro terdapat sumur yang menjadi salah satu peninggalan Soeharto, sumur ini merupakan saksi bisu kelahiran bayi yang kemudian menjadi presiden kedua di Indonesia.

“Menjaga dan merawat museum, itu bisa koleksi seni, koleksi sejarah dan koleksi lain yang bisa dipamerkan dan mejadi edukasi bagi anak bangsa. Saya punya pandangan ketika suatu teknologi modern itu dikembangkan di suatu tempat destinasi atau museum itu bagus, anak muda akan tertarik, tapi harus didampingin oleh educator yang betul betul paham,”kata Gatot.

Dalam praktiknya, edukator museum Soeharto selalu mengedukasi sesuai dengan umurnya, sehingga pendekatan yang dilakukan tidak hanya 1 arah saja, tetapi terdapat timbal balik antara edukator dengan pengunjung. Menurutnya, ketika anak anak memiliki dunia edukasi dengan bermain, ia sebagai edukator akan meminta anak anak untuk bernyanyi lagu garuda Pancasila serta hal lainnya yang menurut anak kecil menarik.

Dengan pendekatan ini diharapkan museum tentang biografi sosok Presiden Indonesia menjadi bagian dari edukasi tentang wawasan kebangsaan, nasionalisme, karakter Pancasila yang dapat menjadi bekal untuk tahun 2045. Ia juga berharap sebagai edukator dapat menjadi bagian secara tidak langsung mencetak generasi generasi yang siap membangun Indonesia. (Victorio Firsta).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....