Muhibah ke Kolektor Seni Terbesar, Ujung Tombak Diplomasi Budaya Indonesia

  • 02 Mar 2026 15:49 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pagi itu, Rabu, 11 Februari 2026, papan informasi cuaca menunjukkan angka 23 derajat Celsius. Kami bergegas menuju loket Stasiun Southern Cross di pusat Kota Melbourne, ibu kota Negara Bagian Victoria, Australia. Tujuan kami adalah Ballarat, kota kecil berjarak sekitar 110 kilometer di sebelah barat Melbourne.

Saya bersama seniman Makassar, Abdi Karya, didampingi oleh Mara Sison, kurator dan peneliti seni asal Filipina yang telah lebih dari dua dekade menetap di Australia. Dalam perjalanan kereta selama satu jam 45 menit, Mara banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai diaspora Asia di Australia, termasuk dinamika kerja kuratorial dan pengelolaan koleksi seni di negeri tersebut.

Setibanya di Ballarat, kota yang dikenal sebagai pusat Gold Rush pada pertengahan 1800-an, jejak arsitektur kolonial masih terlihat jelas di berbagai sudut kota seluas 343 kilometer persegi dengan populasi sekitar 121 ribu jiwa. Salah satu destinasi ikonik di kota ini adalah Sovereign Hill, kawasan wisata yang merekonstruksi kehidupan penambang emas abad ke-19.

Namun, tujuan kami bukanlah objek wisata, melainkan sebuah gudang penyimpanan ribuan koleksi karya seni Indonesia milik salah satu kolektor terbesar Indonesia, Konfir Kabo.

Begitu pintu bangunan dibuka, kami disambut keragaman bentuk, ukuran, dan warna karya seni yang tertata dalam ruang besar menyerupai gudang. Lukisan, patung kayu dan batu, kain tenun, rajutan, patung kaca hingga instalasi memenuhi hampir seluruh ruang. Rasa takjub sulit disembunyikan melihat kekayaan visual yang sebagian besar merupakan karya seniman Indonesia.

Menurut Mara Sison, yang sejak 2021 menjabat sebagai Collection Manager di Project Eleven, jumlah koleksi di gudang tersebut mencapai sekitar 1.400 karya, dengan 90 persen di antaranya merupakan karya seniman Indonesia. Jumlah itu belum termasuk koleksi yang tersimpan di kediaman pribadi Konfir di Melbourne.

Abdi Karya membuka salah satu dari puluhan rak vertikal penyimpanan berisi koleksi lukisan dan foto. (Foto: RRI/Wulan Yulianita)

Project Eleven merupakan institusi seni internasional yang didirikan Konfir Kabo bersama istrinya, Monica Lim. Berbasis di Australia, organisasi ini mendukung seniman, program, dan proyek seni yang memberikan dampak signifikan bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia di kancah internasional. Aktivitasnya tidak hanya mengoleksi karya, tetapi juga mendukung pameran, pertunjukan, penelitian, hingga pendidikan seni.

Koleksi yang dikelola tidak bersifat pasif. Sebaliknya, ia diaktifkan melalui berbagai kerja sama kuratorial, peminjaman karya untuk pameran, hingga komisi karya baru.

Sejumlah institusi dan ajang seni internasional yang pernah menampilkan karya dari koleksi ini antara lain Museo de Arte Contemporaneo de Roma di Italia, Asia Pacific Triennial di Brisbane, Indian Ocean Craft Triennial, Multicultural Arts Victoria dalam program “Mapping Melbourne”, serta berbagai ajang di Indonesia seperti ARTJOG, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, hingga Sydney Biennale.

kiri ke kanan: Konfir Kabo (founder dan direktur Project Eleven), Abdi Karya (seniman Indonesia), Ridvan Kilic (peneliti hubungan internasional & alumni Australia-Indonesia Muslim Exchange Program). (Foto: dokumentasi Ridvan Kilic)

Konfir Kabo sendiri lahir di Makassar pada 1973 dan menetap di Australia sejak 1988. Berprofesi sebagai pengacara dan pengusaha, ia mendirikan firma hukum pada 2001 sekaligus mengelola bisnis properti dan investasi.

Perjalanan koleksinya dimulai dari pembelian karya Maria Indria Sari berjudul I Am Big, You Are Small pada 2001. Karya yang menggambarkan figur ibu dan anak itu memiliki kedekatan emosional dengan dirinya, sekaligus menjadi titik awal komitmennya dalam mengoleksi seni rupa kontemporer Indonesia.

Sejak saat itu, koleksinya berkembang pesat, mencakup karya seniman senior maupun generasi muda. Beberapa nama yang karyanya masuk dalam koleksi antara lain FX Harsono, Tisna Sanjaya, Heri Dono, I Gak Murniasih, Eko Nugroho, serta seniman dan kolektif yang lebih muda seperti Kultura Collectiva, Udeido, Mulyana, dan Citra Sasmita.

Mara Sison, kurator dan peneliti seni asal Filipina yang telah lebih dari dua dekade menetap di Australia dan menjadi Manager koleksi Project Eleven. (Foto: koleksi pribadi Mara Sison)

Mara menjelaskan, tidak ada formula khusus dalam proses pengumpulan karya. Konfir memperoleh karya melalui kunjungan ke pameran seni di Indonesia, mendatangi studio seniman, menerima penawaran langsung dari seniman, hingga mengoleksi karya yang diproduksi dalam program yang didukung Project Eleven.

Pendekatan ini menunjukkan, koleksi seni pribadi dapat berfungsi lebih dari sekadar simbol prestise atau kepuasan personal. Koleksi dapat menjadi ruang dialog, kolaborasi, dan diplomasi budaya. Dengan mengoleksi karya seniman yang masih hidup dan sedang berkembang, Konfir turut menjaga relevansi seni dalam merespons isu-isu sosial, politik, dan budaya yang terus berubah.

Penulis berpose bersama seniman Abdi Karya di ruang penyimpanan koleksi Project Eleven dengan latar belakang karya seniman dari Indonesia, diantaranya Sigit Santoso, Mulyana, Ridho Scoot, Fitri DK, dan Munir. (Foto: RRI/Koleksi Pribadi)

Relasi yang dibangun pun bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan jejaring ekosistem yang saling menguatkan antara seniman, kolektor, kurator, institusi, dan publik. Dalam konteks inilah, koleksi seni menjadi instrumen diplomasi budaya—menghadirkan wajah Indonesia melalui seni kontemporer di panggung internasional.

Dari kunjungan singkat ke gudang koleksi di Ballarat, tergambar jelas bagaimana kerja diplomasi budaya dapat dijalankan melalui aktivasi koleksi seni pribadi. Upaya ini tidak hanya mendorong pertukaran budaya dan kolaborasi lintas negara, tetapi juga memperluas pengenalan dunia terhadap dinamika dan kekayaan seni rupa kontemporer Indonesia.

Rekomendasi Berita