Pameran Seni Rupa “Singgah sebelum Pulang”, Ruang Refleksi Delapan Seniman di GIK UGM

  • 22 Sep 2026 12:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perjalanan hidup tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada masa ketika seseorang perlu berhenti sejenak, melihat kembali apa yang telah dilalui, meresapi kegelisahan, hingga menemukan cara untuk kembali melangkah.

Gagasan tersebut hadir dalam pameran seni rupa Mampir Gelanggang bertajuk “Singgah sebelum Pulang” yang digelar Galeri Bulaksumur GIK UGM bersama Sedekat Imaji Rupa. Pameran berlangsung pada 19 September hingga 5 Oktober 2026 di Galeri Bulaksumur B, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada.

Pameran menghadirkan 38 karya dari delapan seniman, yakni Indera Kencana, Vicky Saputra, Yanal Desmon Zendrato, Harris Fanany, Denny Saiful Anwar, Aprilia El Shinta, Anton Afganial, dan Risao Pambudi.

Bagi salah satu seniman, Indera Kencana, tema “Singgah sebelum Pulang” menjadi ruang untuk menerjemahkan perjalanan batin yang dilaluinya dalam beberapa tahun terakhir. Kegelisahan, kemarahan, hingga rasa lelah secara perlahan membawanya pada fase menerima dan berserah diri.

“Lebih ke sekian tahun terakhir kan kondisinya tidak karu-karuan ya. Ini sebenarnya konflik batin saya. Jadi, awalnya marah dulu, kenapa kondisinya begini gitu. Terus lama-lama mulai bisa menerima, merayakan diri sendiri, pasrah sama apa yang diberi,” kata Indera.

Indera menerjemahkan perjalanan tersebut melalui visual berupa berbagai gestur manusia. Sebanyak 12 karya yang ditampilkan memiliki pendekatan visual berbeda, tetapi berada dalam satu gagasan utama, yakni perjalanan menuju sikap berserah diri.

“Jadi, sebenarnya Ide besarnya itu, tapi saya terjemahkan ke visualnya gesture manusia, ada yang berbagai gesture. Untuk ukuran karya saya ingin tampilkan dari besar sampai kecil. Supaya lebih menarik buat display. Emang background saya kuliah Arsitek. Makanya saya mikirin sampai ke display gara-gara,” ujar Indera menambahkan.

Latar belakangnya sebagai arsitek turut memengaruhi cara Indera memperlakukan ruang pamer. Baginya, karya tidak hanya berbicara melalui objek visual, tetapi juga melalui bagaimana karya tersebut ditempatkan dan berinteraksi dengan ruang.

“Ini sebenarnya perjalanan spiritual berkaitan sama temanya juga kan "Singgah sebelum pulang" ya. Jadi saya terjemahkannya sebagai titik untuk merefleksikan diri sebelum kita melanjutkan perjalanan lagi. Kan kadang kita berhenti lihat pencapaian, lihat refleksi,” kata Indera.

Dari perjalanan tersebut, Indera menghadirkan 12 karya dengan satu benang merah, yakni proses menerima keadaan. Ia menggambarkan perjalanan yang bermula dari kemarahan dan kelelahan hingga akhirnya sampai pada sikap pasrah dan kepercayaan terhadap takdir.

“Karya saya yang dipamerkan kali ini ada 12. Itu temanya berbeda-beda atau Tema utamanya berserah diri. Cuma memang awalnya dari amarah dulu, dari rasa lelah, lama-lama menjadi pasrah percaya sama takdir,” ujar Indera.

Sementara itu, Galih Adityo dari Sedekat Imaji Rupa menjelaskan, Mampir Gelanggang merupakan bagian dari rangkaian antologi empat babak. “Singgah sebelum Pulang” menjadi salah satu bagian perjalanan yang nantinya akan berlanjut menuju babak terakhir bertajuk “Pulang Gelanggang”.

“Pameran ini sebenarnya merupakan bagian dari antologi empat babak. Jadi ada pulang, ada mampir, dari mampir rasan-rasan itu terus pada akhirnya nanti balik ke pulang,” kata Galih.

Menurut Galih, posisi “singgah” menjadi penting karena berada di antara perjalanan yang telah ditempuh dan tujuan yang akan dituju. Pameran ini sekaligus menjadi ruang perjumpaan sebelum rangkaian tersebut mencapai babak akhirnya.

“Makanya ini tema pameran ini adalah singgah sebelum pulang karena ini merupakan pameran antara sampai akhirnya nanti pada akhirnya kita lanjut di gelaran seni terakhir bernama Pulang Gelanggang,” ujar Galih.

Pameran juga mempertemukan seniman dengan latar belakang yang beragam. Tidak seluruh seniman berasal dari pendidikan seni. Ada pula seniman yang memiliki latar belakang arsitektur maupun disiplin lain, sehingga menghasilkan pendekatan dan gaya visual yang beragam.

“Kalau senimannya kami memang apa dari berbagai macam perupa dengan berbagai macam disiplin juga berbagai macam style juga bahkan background-nya semuanya tidak dari tidak hanya dari di sekolah seni, ada yang bersekolah di arsitektur gitu. Jadi kami memang merangkul teman-teman yang berbagai macam background.”

Keragaman tersebut juga terlihat dari genre dan medium yang digunakan. Karya-karya yang dihadirkan memiliki pendekatan yang berbeda, mulai dari ekspresionisme hingga penggunaan media cat air.

“Kalau genrenya sebentar ada yang ekspresionis terus ada juga yang apa? yang menggunakan media cat air juga,” kata Galih.

Bagi Sedekat Imaji Rupa, keberagaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pameran. Setiap seniman membawa pengalaman, cara pandang, serta bahasa visual masing-masing untuk mengisi ruang “singgah”.

Pameran “Singgah sebelum Pulang” dapat dikunjungi masyarakat mulai 19 September hingga 5 Oktober 2026, setiap hari pukul 09.00–17.00 WIB di Galeri Bulaksumur B, GIK UGM.

Melalui karya-karya yang dihadirkan, Mampir Gelanggang tidak hanya menawarkan pengalaman melihat karya seni, tetapi juga mengajak pengunjung berhenti sejenak. Sebuah jeda untuk membaca kembali ingatan, kegelisahan, perjalanan, dan kemungkinan tentang dimana seseorang akan melangkah setelah persinggahan itu berakhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....