Run n Shine UGM Satukan Kampus, Kampung, dan Komunitas

  • 22 Sep 2026 09:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ajang lari Run n Shine di Kampus UGM, Minggu, 20 September 2026, tidak hanya menghadirkan aktivitas olahraga. Lebih dari 2.500 peserta diajak merasakan pengalaman berlari yang mempertemukan berbagai unsur kehidupan Yogyakarta melalui konsep 5K, yakni Kampus, Komunitas, Keraton, Kampung, dan Korporasi.

Konsep tersebut menjadikan Run n Shine sebagai ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat. Olahraga dipadukan dengan unsur budaya, komunitas, lingkungan kampus, hingga kehidupan warga di kawasan yang dilalui peserta.

Kegiatan yang diselenggarakan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) bersama Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM tersebut terbagi dalam kategori 5K dan 10K. Peserta juga berkesempatan mendapatkan berbagai hadiah, di antaranya paket perjalanan ke Turki untuk kategori 5K dan paket umrah bagi kategori 10K.

Selain itu, penyelenggara memberikan hadiah perjalanan ke Thailand bagi peserta dengan kostum terbaik. Run n Shine juga dimeriahkan penampilan Barasuara sebagai bintang tamu.

Divisi Program GIK UGM sekaligus Koordinator Volunteer Run n Shine, Ilham, mengatakan konsep 5K dirancang untuk mempertemukan berbagai unsur yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.

“Jadi semua unsur dari keraton, kampus, kampung, komunitas, dan korporat itu jadi satu di Run n Shine ini. Semua bersinergi, semua guyub bareng, dan semua mensukseskan acara Run n Shine ini,” ujar Ilham.

Penerapan konsep tersebut terlihat dari keterlibatan komunitas lari, komunitas seni, dan komunitas tari yang turut meramaikan jalur lari 5K dan 10K. Unsur kampung juga hadir melalui rute yang melewati sejumlah kawasan permukiman serta keterlibatan warga dalam memberikan dukungan kepada peserta.

Rute lari juga dirancang melewati sejumlah landmark yang menjadi bagian dari identitas Yogyakarta. Lingkungan kampus merepresentasikan unsur Kampus, sementara keterlibatan berbagai korporasi sebagai mitra pendukung melengkapi konsep 5K yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Menurut Ilham, konsep tersebut masih dapat dikembangkan dengan mempertemukan olahraga dengan potensi lain yang dimiliki Yogyakarta, seperti wisata, seni, dan akademik.

“Harapannya kultur lari itu bisa dipadukan dengan wisata, dengan seni juga, dan juga dengan akademik. Jadi ada lingkungan, ada unsur-unsur yang mungkin baru juga dan harapannya kelima unsur itu juga terus bersinergi dan event ini bisa menjadi event tahunan yang ditunggu sama warga Jogja,” ujar Ilham.

Ketua Pengurus Pusat Kagama, Basuki Hadimuljono, mengatakan Run n Shine menjadi salah satu bentuk penerjemahan semangat kebersamaan Kagama melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

“Seperti halnya kegiatan apa pun bagi Kagama, tujuannya hanya satu, guyub, rukun, migunani," katanya.

Menurut Basuki, olahraga tidak hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh. Lebih dari itu, kegiatan bersama dapat membangun interaksi dan menghadirkan pengalaman positif bagi masyarakat.

"Guyub, rukun, migunani itu tujuannya adalah kebahagiaan. Nggak ada gunanya guyub, enggak ada gunanya rukun kalau tidak migunani. Tidak mungkin migunani kalau kita enggak rukun, enggak guyub," katanya.

Basuki menyebut Run n Shine sebagai salah satu wadah untuk menjaga semangat kebersamaan tersebut secara berkelanjutan. Dengan penyelenggaraan yang telah menjadi agenda tahunan, kegiatan ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak peserta.

"Ini merupakan event tahunan yang sangat luar biasa. Tahun ini lebih dari 2.500 orang peserta, baik 10 kilometer maupun 5 kilometer. Mudah-mudahan ke depan nanti lebih banyak lagi," ujarnya.

Salah satu peserta kategori 10K, Teddy, menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 47 menit. Run n Shine menjadi pengalaman pertamanya mengikuti ajang lari setelah sebelumnya rutin menjalani latihan.

Ia mengaku menikmati suasana perlombaan karena dapat merasakan langsung atmosfer kompetisi yang selama ini hanya dipersiapkan melalui latihan.

Dalam persiapannya, Teddy menjalani latihan dengan jarak 70 kilometer per minggu. Menjelang perlombaan, volume latihan dikurangi menjadi sekitar 30 kilometer sebagai bagian dari masa tapering untuk menjaga kondisi tubuh dan mempersiapkan performa saat perlombaan.

“Seru ya, karena ini juga event debut bagi saya. Selama ini kan saya cuma latihan doang, tapi belum pernah kayak langsung ikuti ke event gitu,” kata Teddy.

Run n Shine menunjukkan bahwa kegiatan olahraga dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat. Ketika kampus, komunitas, kampung, keraton, dan korporasi hadir dalam satu kegiatan, olahraga sekaligus menjadi medium untuk memperkuat interaksi dan kebersamaan.

Konsep tersebut menjadi modal bagi penyelenggara untuk mengembangkan Run n Shine sebagai agenda tahunan yang tidak hanya menawarkan pengalaman berlari, tetapi juga memperkenalkan sisi lain Yogyakarta melalui budaya, komunitas, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....