Krisis Air dan Minta Hujan, Warga Sardonoharjo Gelar Tradisi “Kenduri Banyu Udan”
- 09 Sep 2026 20:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Warga Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman bersama Komunitas Banyu Bening menggelar tradisi Kenduri Banyu Udan, Rabu, 9 September 2026. Kegiatan ini merupakan ritual turun temurun untuk meminta hujan di tengah krisis air pada musim kemarau seperti saat ini.
Ketua Komunitas Banyu Bening Sri Wahyuningsih menjelaskan Kenduri Banyu Udan merupakan tradisi sakral yang diawali dengan doa keselamatan. Dilanjutkan dengan prosesi mengelilingi panggung sebanyak 7 kali yang memilki filosofi sebagai ajang pembersihan diri.
Sri mengatakan angka 7 bermakna pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa agar segala persoalan dan bencana yang ada di Indonesia segera berakhir.
Lalu, prosesi dilanjutkan dengan kirab bregada yang turut membawa gunungan hasil bumi dan gunungan air hujan yang dikemas plastik. Kedua gunungan itu lalu dirayah atau diperebutkan oleh masyarakat yang berharap keberkahan.
“Rebutan air ini menggambarkan simbol saat ini yang terjadi. Orang rebutan air di mana-mana, tapi salah satunya juga memberikan gambaran secara filosofi bahwa air itu hak publik dan untuk semua makhluk Tuhan di bumi,” kata Sri Wahyuningsih saat ditemui di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Rabu, 9 September 2026.
Kenduri Banyu Udan juga turut menampilkan tarian dengan properti kendi yang berisi air hujan. Air dalam kendi yang dibawa oleh para penari lalu dituang ke dalam kendi besar.
Sri menuturkan prosesi tarian ini merupakan wujud doa dan rasa syukur. Tradisi ini diharapkan bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk ikut serta berperan dalam menyelesaikan problem krisis air yang terjadi saat ini dengan menjaga keseimbangan lingkungan.
Di sisi lain, Sri juga mengajak warga untuk menggelar doa bersama bagi korban bencana kebakaran hutan dan lahan sekaligus bencana erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi baru-baru ini.
“Ini menjadi satu bentuk keprihatinan. Dan ini memang agenda tahunan yang harapannya dengan adanya kegiatan ini bisa dari sedikit dimulai untuk menyelesaikan permasalahan ini,” ucap Sri.
Sementara, salah satu warga Ngaglik Murniati berhasil mendapatkan hasil bumi usai berebut bersama warga yang lain. Dia mengaku sayur sawi dan kacang panjang yang dia dapatkan ini akan dimasak dan dikonsumsi bersama keluarga.
Murniati mengaku ini menjadi kali pertama baginya mengikuti rayahan gunungan hasil bumi. Dia berharap, sayuran yang dia dapatkan ini turut membawa keberkahan.
“Semoga lekas turun hujan, airnya banyak, dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Harapannya bencana juga bisa segera berakhir dan bisa ditangani pemerintah,” ujar Murniati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....