Dari Bundaran UGM, Mahasiswa Tuntut Keadilan bagi Korban Unjuk Rasa 1 September
- 03 Sep 2026 20:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam berbagai aliansi menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Kamis, 3 September 2026. Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi yang juga dilakukan mahasiswa di Perempatan Gramedia dua hari lalu. Kejadian itu sempat rusuh dan menyebabkan 6 orang massa aksi terluka hingga memerlukan perawatan di rumah sakit.
Salah satu massa aksi Agam Hanafi turut menjelaskan kronologi kejadian aksi unjuk rasa. Dia menyebut sejatinya pelaksanaan unjuk rasa di Perempatan Gramedia beberapa hari lalu berlangsung tertib. Massa berdatangan dan unjuk rasa dimulai sejak pukul 16.00 WIB. Lalu pada pukul 19.15 muncul kelompok ormas yang melakukan provokasi dan memicu percekcokan hingga sempat memukul mundur massa aksi dari perempatan. Agam menyebut, beberapa massa aksi melihat anggota ormas turut membawa senjata seperti batu, kayu, kaleng, mercon, tongkat baseball hingga senjata tajam berupa karambit dan cutter.
"Massa aksi berhasil meredam situasi dan mengorganisir diri untuk kembali ke perempatan sebagai lokasi awal aksi. Massa aksi sepakat untuk berkompromi dan membubarkan diri dengan syarat polisi harus menjaga keselamatan massa aksi dengan membubarkan ormas preman yang sudah membanjiri perempatan. Namun, polisi tidak kunjung membubarkan ormas preman yang sudah mulai menyebar ke berbagai penjuru arah untuk menyerang massa aksi," ujar Agam saat menyampaikan keterangan di Bundaran UGM, Kamis, 3 September 2026.
Agam menambahkan dia bersama masiswa lainnya sempat berhenti berorasi dan meminta pihak kepolisian untuk turut membubarkan kelompok ormas. Namun, justru terjadi penyerangan dari ormas kepada massa aksi hingga menyebabkan jurnalis perempuan, pers mahasiswa, dan massa aksi dengan total 6 orang mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.
Pada kesempatan ini, massa aksi lainnya, Zizi juga turut membantah adanya tuduhan Polda DIY kepada massa aksi yang disebut membawa pepper spray atau cairan merica. Dia menegaskan, alat yang dibawa bukanlah cairan merica, melainkan larutan air dan Mylanta yang merupakan bahan penetral pepper spray yang dibawa oleh tim relawan medis. Zizi menyebut, cairan merica justru terlihat dibawa oleh ormas yang ada pada aksi unjuk rasa itu. Untuk itu, dia bersama mahasiswa lainnya mendorong Polda DIY untuk segera melakukan klarifikasi.
"Yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah kepolisian sebagai aparat penegak hukum yang seharusnya menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dalam memverifikasi faktanya terlebih dahulu, bukan melempar wacana yang menggiring opini. Selain itu, viktimisasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian hanyalah upaya untuk menghapus tanggung jawab mereka sebagai pihak yang seharusnya menjaga kondusifitas jalannya aksi," ucapnya.
Aksi damai di Bundaran UGM ini berlangsung dengan tertib. Tak hanya aliansi mahasiswa, sejumlah anggota pers mahasiswa dan aliansi jurnalis independen (AJI) Yogyakarta juga turut menyuarakan aspirasinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....