Kolesterol Tinggi, Kendalikan dengan Pola Hidup Sehat

  • 02 Sep 2026 14:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kadar kolesterol tinggi atau dislipidemia perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan pembuluh darah, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pada organ hati.

Kolesterol sendiri terdiri atas beberapa jenis. Low Density Lipoprotein (LDL) kerap disebut sebagai kolesterol “jahat”, sedangkan High Density Lipoprotein (HDL) dikenal sebagai kolesterol “baik”. Selain itu, terdapat trigliserida yang merupakan jenis lemak dalam darah dan berasal dari kelebihan kalori yang tidak digunakan tubuh.

Dokter Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp.PD, menjelaskan kolesterol sebenarnya tetap dibutuhkan tubuh untuk menjalankan sejumlah fungsi. Namun, kadar yang terlalu tinggi dan berlangsung dalam waktu lama dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak di pembuluh darah.

Kondisi tersebut selanjutnya dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

“Sebenarnya kolesterol itu tetap dibutuhkan tubuh. Kayak bumbu gitu, asal jangan kebanyakan,” ujar Gibran dalam edukasi mengenai kolesterol, Senin, 31 Agustus 2026, di Gedung Pusat UGM.

Menurut Gibran, kadar kolesterol tinggi tidak selalu disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat maupun minimnya aktivitas fisik. Faktor usia, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, serta faktor risiko lainnya juga dapat memengaruhi kadar kolesterol seseorang.

Karena itu, masyarakat yang telah berupaya memperbaiki pola hidup tetapi masih memiliki kadar kolesterol tinggi dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui kemungkinan kondisi yang mendasarinya.

“Bila sudah berupaya memperbaiki gaya hidup namun masih memiliki kadar kolesterol tinggi perlu berkonsultasi untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya,” katanya.

Gibran menganjurkan masyarakat mulai membangun kebiasaan sehat secara konsisten. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga kualitas tidur, serta membatasi konsumsi gorengan, lemak jenuh, dan minuman manis.

Perubahan kebiasaan tersebut dapat mulai dilakukan secara bertahap selama 30 hari untuk membangun pola hidup yang lebih sehat.

Selain perubahan gaya hidup, Gibran mengingatkan penggunaan obat penurun kolesterol harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi setiap pasien. Obat tidak dapat menggantikan penerapan pola hidup sehat.

“Obat itu bukan pengganti gaya hidup,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu (BPKT) UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, mengatakan UGM mendorong sivitas akademika untuk lebih aktif menjaga kadar kolesterol melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin dan perubahan gaya hidup.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan edukasi mengenai kolesterol yang ditujukan bagi staf pendidikan UGM yang berdasarkan pemeriksaan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) pada Agustus 2026 memiliki riwayat kadar kolesterol tinggi.

Andreasta menilai hasil pemeriksaan Posbindu seharusnya menjadi dasar untuk melakukan tindak lanjut, bukan sekadar menjadi catatan kesehatan. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi kesehatan sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

“Kami ingin mendorong dosen dan tenaga kependidikan melakukan screening rutin,” ujarnya.

BPKT UGM mengoordinasikan sejumlah fasilitas dan layanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan sivitas akademika. Layanan tersebut antara lain Rumah Sakit Akademik UGM, Gadjah Mada Medical Center (GMC), Klinik Korpagama, serta layanan promotif dan preventif seperti Posbindu.

Setelah mengetahui kondisi kesehatan melalui pemeriksaan, sivitas diharapkan turut berperan dalam menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan. Hal itu mencakup pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, hingga pengaturan beban kerja.

“Kita mengajak peserta menerapkan gaya hidup sehat. Ya, pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, beban kerja,” kata Andreasta.

Dokter GMC UGM, dr. Yuniantika, M.P.H., menjelaskan peserta juga dapat memanfaatkan layanan konsultasi gizi untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Konsultasi dilakukan secara personal dengan mempertimbangkan kebiasaan makan, jumlah porsi, kondisi kesehatan, serta penyakit penyerta, seperti hipertensi dan diabetes.

Hasil konsultasi dapat menjadi dasar penyusunan rencana menu yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta. Evaluasi kemudian dapat dilakukan kembali setelah beberapa minggu atau sekitar satu bulan.

Sementara itu, Kepala Klinik Korpagama UGM, dr. Wahyudi Istiono, memperkenalkan layanan klinik sebagai fasilitas kesehatan primer yang dapat menjadi pintu pertama bagi sivitas akademika untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Pemeriksaan kesehatan secara rutin, konsultasi dengan tenaga kesehatan, pemanfaatan fasilitas kesehatan, serta penerapan pola hidup sehat menjadi rangkaian langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kadar kolesterol dan menekan risiko penyakit di kemudian hari.

Dengan pendekatan tersebut, hasil pemeriksaan Posbindu diharapkan tidak berhenti sebagai angka dalam lembar pemeriksaan. Temuan tersebut dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan perubahan dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....