Dorong UMKM, Mahasiswa PPG UST Sulap Daun Singkong Jadi Keripik

  • 30 Agt 2026 06:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di Desa Leses, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, daun singkong selama ini lebih akrab di meja makan sebagai sayuran, diperkenalkan dalam bentuk berbeda yakni keripik renyah bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut diperkenalkan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Indonesia Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) melalui KRIDASI atau Keripik Daun Singkong, Senin 25 Agustus 2026. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk sosialisasi dan demonstrasi itu melibatkan ibu-ibu PKK Desa Leses.

Ketua penyelenggara, Iin Nur Latifah, mengatakan gagasan KRIDASI muncul dari pengamatan sederhana terhadap potensi yang ada di sekitar masyarakat. “Awalnya kami melihat bahwa daun singkong itu cukup mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Namun, pemanfaatannya sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi masih belum banyak dilakukan,” katanya.

Menurutnya, KRIDASI tidak semata-mata ditujukan untuk memperkenalkan resep camilan baru. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat melihat bahan pangan yang selama ini dianggap biasa sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual.

Dengan pengolahan dan kemasan yang tepat, daun singkong yang sebelumnya hanya menjadi bahan masakan dapat memiliki bentuk baru sebagai camilan sekaligus membuka peluang usaha rumahan.

Bagi sejumlah peserta, demonstrasi KRIDASI menjadi pengalaman baru. Salah satunya Widayati yang mengaku selama ini hanya mengenal daun singkong sebagai bahan sayuran.

“Kalau yang seperti ini (keripik dari daun singkong) belum tahu. Baru pertama kali, karena biasanya hanya mendengar keripik dari sayur bayam. Alhamdulillah kita dapat pelajaran baru,” ucapnya.

Ia mengatakan proses pembuatan adonan menjadi salah satu bagian yang paling menarik.

Peserta tidak sekadar mencampurkan bahan, tetapi harus memperhatikan komposisi dan rasa agar menghasilkan keripik yang sesuai.

“Saya paling tertarik saat membuat adonan. Kita harus mengetahui campurannya berapa, bahan-bahannya apa saja dan bagaimana memberikan rasa. Jadi kita seperti tertantang,” katanya.

Pengalaman tersebut membuatnya tertarik mencoba mengembangkan KRIDASI bersama kelompok PKK. Ia menilai produk tersebut masih dapat dikembangkan melalui promosi secara langsung maupun memanfaatkan media sosial.

Sementara itu Ketua PKK Desa Leses, Ida, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan pengetahuan yang cukup lengkap, mulai dari mengolah bahan hingga mengemas produk.

“Kami mendapatkan pelatihan pembuatan keripik dari daun singkong, dari bahan, cara produksi, cara packing kami dapat ilmunya. Alhamdulillah ibu-ibu sudah paham dan mengerti, insyaallah dapat kami lanjutkan,” ujarnya.

Ia menilai KRIDASI memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha rumahan.

Selain memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, produk tersebut juga dapat menambah variasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Leses.

Pengembangan produk, menurutnya, menjadi penting agar kegiatan yang telah dilakukan tidak berhenti sebagai pelatihan sesaat. Dosen Pembimbing Lapangan, Okta, mengatakan proyek kepemimpinan mahasiswa PPG tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran calon guru di luar ruang kelas.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga belajar melihat persoalan dan potensi yang ada di tengah masyarakat. “Intinya kita tidak hanya bisa menjadi guru, tetapi kita juga bisa mengabdi di masyarakat,” ucapnya.

Ia berharap KRIDASI tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi dan demonstrasi.

Produk tersebut diharapkan benar-benar dapat dikembangkan hingga memiliki nilai ekonomi dan dipasarkan.

Kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa pemanfaatan pangan lokal tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal.

Dari daun singkong yang mudah ditemukan di sekitar rumah, masyarakat dapat menciptakan produk baru apabila dibarengi kreativitas, pengolahan, kemasan, dan strategi pemasaran.

Bagi Desa Leses, KRIDASI pun diharapkan tidak sekadar menjadi keripik, tetapi menjadi pemantik agar potensi sederhana di lingkungan sekitar mulai dilihat sebagai peluang ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....